Minggu, 08 September 2019

NUSANTARA BANGSA TAK PERNAH TERJAHAH

Prof Dr Agus Budiyono, alumnus ITB, alumnus MIT Amerika Serikat. Perguruan Tinggi sangat bergengsi di dunia. Beliau lama mengajar sebagai Profesor di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Australia. Hari ini beliau menerima Penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dalam "Tujuh Puluh Empat Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila" atas prestasi dan inspirasinya sebagai penyandang empat gelar Profesor di bidang Aeronautika dan Astronautic. Dari beberapa kali berdiskusi dengan beliau, tampak sekali keinginan kuat beliau untuk menyatukan dan memperkuat potensi-potensi SDM yang dimiliki Indonesia untuk memajukan Indonesia oleh anak-anak bangsa sendiri. Sejak pulang dari mancanegara ke tanah air pada akhir 2016, tidak menunggu lama, beliau berkeliling ke seluruh pelosok tanah air guna membangkitkan kepercayaan diri anak bangsa bahwa Indonesia mampu! Indonesia bisa! Tulisan beliau terbaru (19 Agustus 2019) berjudul "Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan", sungguh sangat menyentuh dan menyentak keIndonesiaan kita, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Andai saja Presiden Joko Widodo menunjuk beliau sebagai Menristekdikti dalam kabinet mendatang, saya yakin wajah dunia pendidikan tinggi dan dunia riset di Republik ini akan berubah. Beliau tidak akan mengimpor Rektor dan Peneliti dari negara lain. Semoga... *ARTICLE: Nusantara Tidak Pernah Dikalahkan* _READING TIME: 6 MINUTES_ _by Agus Budiyono, Alumni Massachusetts Institute of Technology_ _disampaikan dalam Seminar Nasional "Literasi Sains untuk Membumikan Nilai-nilai Pancasila" Solo, 19 Agustus 2019_ Saya menghabiskan sebagian besar usia dewasa saya di luar nusantara. Saya pernah tinggal di _Amerika (Cambridge, Boston, Nashua, Columbus),Eropa (Assen),Australia (Melbourne) dan Timur Jauh (Seoul)._ Kemanapun saya pergi saya bangga menjadi orang Indonesia. Sangat bangga. Saya datang dari bangsa yang kaya raya. Nenek moyang sayalah yang dulu menyelamatkan bangsa Eropa dari ancaman kepunahan dan membiayai transformasi masyarakat mereka untuk keluar dari abad kegelapan. Eropa tahun 1200an adalah daratan yang terkebelakang. Lima ratusan tahun kemudian, pun dengan episode Renaissance tahun 1400-1700an, nasib mereka tidak berubah banyak. Sampai tahun 1694, Eropa masih didera wabah kelaparan. Menurut catatan pegawai di kota _Beauvais_, wabah kelaparan yang mengganas membuat para warga yang miskin mengkonsumsi makanan yang sangat tidak higienis (dan tidak akan pernah terbayang oleh penduduk nusantara kita). Mereka makan kucing dan serpihan bangkai kuda yang terserak di tengah kotoran. Lainnya memakan paku-pakuan, rumput dan akar tanaman yang mereka rebus dalam air. Pemandangan ini meruyak di seluruh daerah Perancis. Sekitar 15% populasi *Perancis* mati kelaparan antara tahun 1692-1694. Tahun 1695, wabah yang sama memukul *Estonia* dan membunuh seperlima populasinya. Tahun berikutnya, 1696, adalah giliran *Finlandia* yang seperempat penduduknya habis. Sementara itu *Skotlandia* juga dihajar wabah kelaparan antara tahun 1695-1698, dimana beberapa daerah kehilangan 20% dari penduduknya. Itulah wajah Eropa selama lebih dari setengah abad. Negeri-negerinya diperintah oleh penguasa-penguasa yang lalim dan diperas oleh para perampok dan bajak laut. Sementara warga Perancis sedang sekarat dan bergulat dengan kelaparan masal, Raja Louis XIV asyik glenikan dengan simpanan-simpanannya di Versailles. Bagaimana kondisi nusantara pada perioda tersebut? Pada perioda 1200 - 1700 nusantara kita adalah tempat paling makmur seluruh dunia. Setelah era kerajaan maritim *Sriwijaya* (650-1183), tahun 1300an muncul, *Majapahit*, empire kedua di Nusantara yang masa keemasannya didokumentasikan dalam buku _Negara Kertagama_. Wilayah Majapahit membentang melebihi Indonesia kita sekarang ini. _Subur kang sarwo tinandur. Gemah ripah loh jinawi_. Sawah luas seperti tanpa batas. Hutan dan kebun dengan seribu macam buah, umbi-umbian, rempah-rempah dan tentunya beraneka ragam ternak. Sungai, laut dan danau penuh berisi ikan dan berbagai komoditi. Sementara tanah yang dipijak berisi mineral dan berbagai logam mulia. Pendeknya, nusantara kita adalah paradisal archipelago. Raja-raja kita memerintah dengan adil dan bijaksana. Memang ada persaingan dan peperangan di sana-sini. Tetapi ini peperangan bukan karena kekurangan. Semua raja di wilayah nusantara adalah penguasa yang kaya raya. _Madep ngalor sugih, madep ngidul sugih._ Tidak pernah ada masalah kelaparan seperti di Eropa sana. Jadi tidaklah logis. _It doesn't add up_. _Ora gathuk_. Tidak nalar, kalo bangsa kelaparan tadi itu datang _kledang-kledang_ menjajah bangsa yang kuat dan makmur. Dari keseluruhan riset saya, berikut ini adalah rekonstruksi yang lebih mungkin terjadi di situasi nusantara kita saat itu: 1. Para explorer dari Eropa itu dikirim kemana-mana oleh penguasanya justru sebagai misi SOS (tapi kemudahan berkembang menjadi misi keserakahan). Bangsa nyaris punah yang sedang mencari jalan keselamatan. Mereka mengetahui dari laporan para traders sebelumnya bahwa ada negeri makmur di katulistiwa yang mempunyai semuanya. Sumber daya yang besar. Itu adalah harapan besar bagi mereka untuk _survive._ 2. Ketika datang ke nusantara, tidak seperti yang digambarkan oleh kebanyakan narasi mereka kemudian(yang ironically menjadi rujukan utama sejarah kita sampai saat ini), mereka bukanlah datang dengan kapal-kapal yang gagah yang pantas untuk menguasai kita. Layar kapal-kapal mereka compang-camping. Tiang-tiang kapal banyak yang patah. Awak-awak kapal mereka kurus kering, kelaparan dan penyakitan sesudah dihajar badai-badai dan digarap para perompak sepanjang lintasan ke nusantara. Mereka tiba di kepulauan kita dengan kaki lemes, mata nanar dan tatapan kosong. Salah satu episoda yang tercatat secara resmi adalah diterimanya 7 pelaut Portugis oleh *Sultan Abu Lais* tahun 1512, sesudah mereka diselamatkan oleh nelayan karena kapalnya hampir karam. Alvares Cabral memimpin pelayaran 13 kapal dan hanya 7 yang selamat. 3. Hanya atas belas kasihan raja-raja kita lah mereka itu diterima dan ditampung dalam wilayah nusantara. Disanak dan diorangkan, karena penguasa-penguasa kita menjunjung tinggi nilai bahwa tamu haruslah dihormati. Sebenarnya kalangan _Central Intelligence_ istana sudah menengarai bahwa ada potensi ancaman (kelak akan terbukti secara besar-besaran), tapi raja-raja kita adalah penguasa yang dermawan dan terbuka hatinya. Atas nama kemanusiaan, orang-orang asing tersebut diberi makan dan bahkan diberi sekedar pekerjaan. Karena memang di negeri asalnya sana sedang berlangsung krisis pekerjaan dan ekonomi sampai orang-orang mati kelaparan di jalan-jalan. Penguasa kita, yang resourcenya luar biasa, menyisihkan sedikit opportunity buat mereka. Zaman sekarang ini mungkin sektor pekerjaan informal: menyapu halaman, membantu masak, membersihkan kandang kuda, menguras kolam ikan dsb. 4. Dalam perkembangannya, kelompok yang mula-mula disanak tadi ternyata sesuai prediksi berbalik mengkudeta para tuan-nya. Dibekali dan diperkuat dengan teknologi senjata api yang marak di Eropa, gelombang-gelombang pendatang baru ke nusantara ini perlahan-lahan mulai melakukan aksi penguasaan. Dimulai dari taktik monopoli dagang. Kemudian secara berangsur yang tadinya adalah perusahaan menjadi pemerintahan. Dimulai dengan datangnya Afonso de Albaquerque (belajar dari rute _Diaz_ dan _Vasco De Gama_) tahun 1511 di selat Malaka sesudah ybs menaklukan satu demi satu pelabuhan-pelabuhan di perairan India. Persaingan kemudian terjadi antara bangsa pendatang Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Masing-masing ingin menguasai dan memonopoli jalur rempah-rempah. Mereka, bangsa yang kelaparan dan hampir punah ini, menemukan bahwa dagang rempah-rampah sangat menguntungkan. 5. Gelombang explorer dari Eropa tadi terbukti ternyata membawa kerusakan di seluruh wilayah dunia, tidak hanya Nusantara. Pada Maret tahun 1520 ketika fleet Spanyol tiba, Meksiko adalah rumah bagi 22 juta penduduknya. Pada bulan December, penduduknya tinggal 14 juta. Pendatang Eropa tidak hanya membawa mesiu, mereka juga datang dengan virus cacar, flu dan tubercolusis. Tahun 1580 penduduk Meksiko menyusut menjadi tinggal 2 juta. Dua abad kemudian, pada tanggal 18 Januari 1778, explorer Inggris _James Cook_ mencapai kepulauan Hawaii, daerah padat dengan penduduk hampir setengah juta. Tahun 1853 hanya 70,000 orang yang selamat mewarisi puing-puing Hawaii. Peradaban _Maya_ dan _Aztec_ kolaps dan punah karena sergapan dan dominasi bangsa Eropa. Tetapi peradaban Nusantara kita berbeda. Tidak sedikitpun kita bergeming dari serbuan bangsa barbar dari Utara. Sejak pecah perang pertama, tahun 1500an di Ternate, penduduk nusantara tidak berhenti angkat senjata untuk mengusir bekas budak yang menjadi durhaka. Perang *Saparua* di Ambon, Perang *Padri* (Sumbar), Perang *Diponegoro* (1825-1830), Perang *Aceh* (1873-1904), Perang *Jagaraga* (Bali) dan ratusan perang lainnya. Demikianlah bela tanah air ini terus berlanjut sampai proklamasi kemerdekaan 1945 dan era mempertahankan sesudahnya. Termasuk era perang budaya dan teknologi yang sekarang berlangsung. 6. Catatan ini kiranya penting bagi generasi muda Indonesia. Mereka harus kita bekali kepercayaan dan sejenis keimanan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa pejuang dan negeri pemenang yang setara dengan negara besar dimana saja. Bangsa besar yang bisa memimpin dan memandu bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Maka, kelak di tahun 2045, ketika Indonesia sudah menjadi salah satu dari 5 besar ekonomi dunia, saya juga ingin membantu memastikan bahwa kita adalah 1 dari 5 negara yang aktif mengurus dan mungkin malah memimpin Stasiun Ruang Angkasa Dunia _(International Space Station)_. Launching station kita akan terletak di Morotai yang dilewati garis equator sehingga bahan bakar roket kita akan lebih hemat. _Space Shuttle_ kita bukan bernama _Magellan_ atau _Nebuchadnezaar_, tapi adalah _SS Karaeng Galesung, SS Tjoet Nya' Dien_ atau _SS Ngurah Rai_. Nama orang-orang gagah berani yang menjadi saksi bahwa penjajahan sejati tidak pernah ada di Nusantara. _Ditulis dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 dan memperinganti penerbangan pertama pesawat N250 buatan Indonesia, 10 Agustus 1995._ *References (primary and partial list):* _Diamond, Jared. Collapse: How societies choose to fail or succeed. Penguin, 2005._ _Diamond, Jared. Guns, Germs and Steel. New York (1997)._ _Harari, Yuval Noah. Sapiens: A brief history of humankind. Random House, 2014._ _Harari, Yuval Noah. Homo Deus: A brief history of tomorrow. Random House, 2016._ _Prapanca, Mpu. Negara Kertagama. Majapahit, 1365_ _Library of Congress, Reuters, AP, AFP, Compton’s Encyclopedia, Wikipedia, National Geographic, Smithsonian magazine, New York Times, Washington Post, Los Angeles Times, Times of London, Lonely Planet Guides, The Guardian, The New Yorker, Time, Newsweek, Wall Street Journal, The Atlantic Monthly, The Economist_

Kamis, 05 September 2019

Perubahan Terus menerus

*Hari ini Suka atau Tidak, Fakta Sudah Terjadi* 1. 25 Tahun lalu Wartel (Warung Telekomunikasi) adalah bisnis yg menguntungkan, namun saat ini Wartel sudah tidak kita jumpai lagi, karena semua orang memiliki hand phone 2. 20 tahun lalu Telepon Umum masih terbilang alat yg sangat membantu, namun saat ini yg tersisa hanya bangkainya saja. 3. 20 tahun yang lalu, Nokia dengan symbiannya adalah raja ponsel di seluruh dunia. Fakta hari ini Symbian tinggal kenangan, dihajar oleh Black Berry. 4. 10 thn lalu Black Berry merajai Chating di Indonesia, semua orang selalu meminta pin BB, namun sekarang sudah dilibas oleh Android dgn Whatsapp, Line dan Telegram 5. 10 tahun yang lalu Yahoo adalah raksasa dunia internet. Fakta hari ini habis terlindas oleh Google. 6. 10 tahun yang lalu, surat kabar, majalah, dan televisi adalah media informasi paling efektif. Fakta hari ini, mereka tergerus oleh YouTube, Facebook,Twitter, Instagram, Linkedin. 7. 10 tahun yang lalu gerai Matahari, Ramayana, Carrefour, Hypermart adalah raja dunia retail . Fakta hari ini, gerai mereka banyak tutup, tergantikan oleh Bukalapak, Tokopedia, Blibli, dll. 8. 10 tahun yang lalu kita masih pakai kertas, survey, dll jika ingin kredit, Fakta hari ini, mereka akan segera tergerus oleh akulaku dan kredivo. 9. 10 tahun yang lalu ojek adalah profesi yang bahkan tidak dipandang sebelah mata pun. Fakta hari ini, tukang ojek adalah S1 bahkan S2, karena sudah online. 10. 10 tahun lalu order Taxi sangat menjengkelkan, sekarang sudah ada Grab, Uber dll. 11. 10 tahun lalu, dunia investasi hanyalah milik orang kaya, orang banyak duit. Fakta hari ini, dengan uang 100 rb rupiah pun pengamen jalanan bisa beli Reksadana saham. 12. 10 tahun yang lalu Anda buka toko kelontong harus pakai modal besar. Fakta hari ini, hanya bermodal Smartphone Anda bisa jadi grosir dengan aplikasi Kudo. 13. 10 tahun lalu anda pesan hotel dan ticket pesawat lewat travel agent. Fakta hari ini, ribuan travel agent berguguran tergantikan oleh Traveloka, Agoda, Pegipegi dll... 14. 10 tahun lalu saya kesulitan mencari makanan halal jika ke luar negeri, namun sekarang begitu mudahnya mencari restorant Halal dan Masjid terdekat dengan applikasi Halal Trip. 15. 10 tahun lalu mencari teman lama cukup sulit terutama teman sekolah SD, SMP ataupun SMA, saat ini hp sudah penuh dengan Group WA Alumni 16. 10 tahun yang lalu, jika Anda tidak terbuka pada perubahan jaman, maka hari ini Anda adalah orang yg tergilas oleh jaman. Mungkin suatu saat kantor2 pelayanan (Services Office) sudah tidak lagi dilayani oleh karyawan tetapi semuanya sudah memakai mesin, contoh saat ini sudah mulai terjadi di Bank seperti layanan Transfer, tarik tunai ataupun setor tunai sudah memakai mesin. Dan tidak menutup kemungkinan suatu saat (dalam waktu yg sangat cepat) transaksi perbankan memakai Alipay ataupun WeChatpay, krn ini sdh mulai terjadi dinegara2 lain. contoh Hong Kong dan China. Dan jika hari ini pun Anda tidak terbuka oleh informasi dan perubahan, Percayalah 10 tahun yang akan datang Anda adalah orang orang yang TERTINGGAL karena Perubahan & Inovasi, tidak akan pernah berhenti, meski Anda berkeras untuk tidak ikut berubah... Di Dunia ini tidak ada tempat Berhenti jangan pernah LAMBAT nanti engkau TERGILAS jangan pernah BERHENTI nanti engkau MATI. TERUSLAH BERGERAK, IKUTILAH PERUBAHAN ITU... ANDA SIAAAAAAAP...??? Semoga kita sukses, Aamiin.. *Walaupun kita sudah pensiunan atau lansia, tapi kita harus tetap bergerak* 🙏

Sabtu, 24 Agustus 2019

Geopolitik: Radikalisme Syndrome

ANTARA RADIKALISME, STOCKHOLM SYNDROME DAN REVOLUSI Telaah Kecil Geopolitik Timbulnya permasalahan hulu (pokok) bangsa, menurut geopolitik, selalu diawali adanya/oleh ketergantungan terhadap impor kebutuhan publik, atau sumber daya alam telah banyak dikuasai asing dst termasuk ada monopoli hal-hal menyangkut hajat hidup orang banyak dalam kendali segelintir elit, dan lain-lain. Semisal impor, selain menguras devisa, ia juga mencerminkan tergerusnya geopolitik sebuah bangsa sebab sudah tergantung pada negara lain. Modus asing saat mencaplok geoekonomi negara target, jika di era penjajahan klasik via militer, sedang pada era kini biasanya melalui politik dan ekonomi, seperti investasi asing, misalnya, atau modus G to G/B to B namun ada debt trap di balik open agenda, ataupun melalui kepemilikan surat utang negara/SUN dst. Sehingga upaya pemerintah manapun untuk mensejahterakan rakyatnya menjadi tak optimal. Ada kendala struktural. Nah, potret yang terlihat kemudian, rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi justru menjadi tamu di negeri sendiri. Istilahnya "Absentee of Lord." Tuan tanah yg tak berpijak di tanahnya sendiri. "Tanah Air," mungkin tersisa "air"-nya. Itupun sebagian sudah dieksploitasi asing. Dikemas dalam botol-botol, lalu dijual kembali ke rakyat. Sedang "tanah"-nya entah kini siapa punya terutama yang terpapar unsur geoekonomi. Sedang persoalan hilir bangsa itu sejatinya cuma residu, riak, ataupun ampas dan/atau segala sesuatu yang tidak berkait signifikan dengan kedaulatan (geo) ekonomi bangsa. Kerap kali, masalah hilir dijadikan pengalihan isu apabila muncul masalah besar lain, atau sekedar penyesatan publik. Ya masalah hilir itu contohnya paket isu DHL (demokratisasi, HAM, Lingkungan), atau di era sekarang paket DHL berubah menu menjadi sektarian, isu sentimen ras, intoleransi dst. Retorikanya begini, apakah defisit neraca perdagangan disebabkan HAM; mungkinkah defisit APBN dan defisit neraca pembayaran karena faktor sektarian dan isu sentimen agama? Dan lain retorika. Ketika segelintir elit menuduh bahwa terdapat kelompok dan/atau golongan tertentu telah terpapar radikalisme, publik pun perlu curiga kepada segelintir elit penuduh, jangan-jangan mereka justru telah terpapar atau terjangkit oleh virus apa yang disebut dengan istilah stockholm syndrome. Apa itu? Postcolonialism mengajarkan, stockholm syndrome itu adalah (semacam) virus yang bisa merusak integritas moral (bangsa) dan menggerus jiwa nasionalis orang karena sikap-tindakannya cenderung membela kepentingan negara asing serta mencintai negara lain (asing) yang justru hendak menjajah dan/atau merampas kehidupan bangsanya sendiri. Keterpaparan situasi dan kondisi ini sepertinya tengah berlangsung secara terstruktur, masif dan sistematis di Bumi Pertiwi. Berbagai kegaduhan sosial politik niscaya akan berlanjut dalam ujud peperangan narasi karena memang didesain agar publik (terutama akar rumput) terus bergaduh ria di masalah-masalah hilir. Terkait maraknya korupsi dan polarisasi, misalnya, kendati ia bukan permasalahan hulu bangsa sebagaimana isyarat di muka, namun hal ini merupakan masalah besar di hilir yang mutlak harus segera diselesaikan. Kenapa? Karena selain membelah rakyat dalam kondisi saling berhadapan, juga menyerap energi bangsa karena efeknya adalah kegaduhan berkala. Kalau sudah begini, tata cara reformis, atau jalan anarkis pun, tak akan bisa menyelesaikan permasalahan. Kenapa? Karena cara reformis hanya membangun namun tidak menjebol (penyebab), sebaliknya, jalan anarkis pun cuma menjebol tapi tidak membangun (solusi). Jalan terbaik mungkin revolusi. Dalam konteks ini, para elit politik, perumus kebijakan dan publik itu sendiri, tak perlu alergi dengan diksi atau kosa kata REVOLUSI. Kenapa? Karena revolusi itu tidak identik dengan kekerasan, juga bukan jalan kekacauan atau berdarah-darah seperti persepsi yang dinarasikan di publik selama ini. Revolusi itu seni dan simponi (bagaimana) menjebol tetapi sekaligus membangun. Keduanya, dilakukan secara simultan dengan intensitas berbeda. Menjebol hal-hal yang merugikan (memiskinkan) rakyat, kemudian membangun segala hal demi keselamatan negara dan kesejahteraan rakyat. Dari sudut causalitas, poin inti (pola) revolusi itu ialah: "Memecahkan penyebab masalah, bukan sekedar menyelesaikan akibat dari sebuah permasalahan". Jadi, sosok revolusioner ---siapapun--- harus menyiapkan dan membangun penyebab baru setelah penyebab lama dijebol. Jika jujur menyebut, kegaduhan politik dekade ini, entah maraknya korupsi atau eksploitasi polarisasi rakyat --- penyebabnya ialah sistem politik one man one vote, multi-partai, atau otoda, dst. Pola revolusi mengendus, bahwa one man one vote, multipartai, dst terindikasi sebagai modus devide et impera (adu domba) yang ditempelkan oleh asing dalam sistem konstitusi. Itulah sejatinya penyebab lama yang mutlak dijebol, tapi harus segera dibangunkan lagi model pengganti (ditancapkan penyebab baru) yang tidak membelah bangsa, tidak high cost politics dan tak menyuburkan korupsi. Demikian adanya, terima kasih.

DIKLAT BELA NEGARA SISWA TARUNA SMA PLUS ASTHA HANNAS




Minggu, 30 Juni 2019

Mata uang baru fb Libra

Libra Bitcoin Kamis 27 June 2019
 Bitcoin memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata uang' baru dunia. Namanya Libra. Bank-bank sentral di dunia pun angkat bicara. Mereka akan mewaspadai langkah baru Facebook itu. Yang akan membuat bank tidak ada gunanya lagi. Bank sebenarnya adalah hanya perantara. Antara pemilik uang dan pengguna uang. Di zaman modern ini untuk apa lagi ada perantara? Sebagian besar manusia ini tidak punya cukup uang. Sebagian agak besar lagi punya uang secukupnya. Hanya sebagian amat kecil yang punya uang berlebihan. Yang tidak punya itulah yang berusaha punya uang. Dengan cara meminjam uang ke bank. Bunga tinggi. Sebagian bunga untuk pemilik uang. Sebagian lagi untuk perantaranya. Yang bagian perantara itu dibagi dua pula: untuk keuntungan perantara dan untuk biaya perantara. Misalnya membangun gedung bank semegah-megahnya. Kian. Megah gedungnya kian Anda percaya. Anda tidak sadar bahwa kemewahan itu Anda lah yang membiayainya. Juga untuk membeli peralatan canggih. Dan tentu untuk gaji para pimpinan dan karyawan bank. Bank-bank sentral dunia juga akan menyelidiki kehadiran Libra: apakah dunia tidak bahaya. Kalau sampai mata uang seperti dolar dan euro runtuh. Adakah Facebook kurang kaya? Sampai terjun ke bisnis baru yang lebih raksasa lagi? "Ini bukan bisnis. Ini misi idealisme Facebook," ujar petingginya. Seperti tersiar di media Amerika yang saya ikuti dari dekat sekarang ini. Tujuan Facebook: agar mata uang dunia itu adil bagi semua orang. Juga agar tersedia jenis 'bank' baru. Yang lebih murah dan efisien. Di dunia ini orang menggunakan dolar belum sampai satu miliar. Demikian juga yang menggunakan rupee dan yuan. Tapi pengguna Facebook sudah melebihi dua miliar. Kekuatan penetrasi Facebook itulah yang akan dipakai. Untuk mempercepat pemasyarakatan 'mata uang' baru Libra. Apalagi lebih satu miliar manusia di bumi ini belum bisa mendapat layanan bank. Maka Facebook nanti akan menjadi 'bank sentral' sekaligus 'bank sentralnya dunia'. Juga akan menjadi penerbit 'mata uang' Libra. Libra nanti, kata Facebook, sangat independen dan demokratis. Tidak ada satu pemerintahan pun yang bisa intervensi. Libra tidak akan seperti bank-bank sentral yang ada. Yang bisa dipengaruhi politik. Terutama politik kepentingan negara masing-masing. Untuk itu Facebook menggandeng 28 lembaga. Yang selama ini sudah bergerak di transaksi non-cash. Misalnya PayPal, Visa, Mastercard, Uber dan Women World Bank. Sayangnya di daftar itu tidak terlihat WeChat. Yang transaksi non-cash nya sudah mewabah di Tiongkok. Facebook sendiri akan punya 'dompet' baru: Calibra. Mungkin akan bertindak sebagai stabilisasi. Kalau nilai tukar Libra antar negara mengalami masalah. Saya masih berharap ini: sempat melihat perubahan besar itu. Yang tentu tidak akan terjadi dalam lima tahun. Tapi Facebook sudah bertekad untuk mempercepat keadilan keuangan ini. Menurut Facebook, selama ini biaya untuk transaksi itu sangat mahal. Yang untung hanya dunia perbankan. Atau lembaga keuangan. Kini asosiasi Libra itu sedang mematangkannya: bagaimana masyarakat seluruh dunia bisa bertransaksi dengan murah. Beli barang atau jual barang tidak perlu lagi pakai uang. Cukup pakai angka. Algoritma akan menyelesaikannya. Bank-bank sentral di dunia juga mengkhawatirkan ini: apakah Libra akan aman dari praktik pencucian uang. Dan apakah tidak akan dipakai aliran dana untuk terorisme. Tentu Facebook sudah memikirkan pemecahannya. Yang jelas Facebook tidak akan mundur: transaksi menggunakan Libra nanti akan semudah kirim WA. Tidak akan seperti bitcoin. Yang sempat seperti roller coaster. Saya pun sempat miris. Lalu exit dari bitcoin. Tahun lalu. Mumpung belum rugi. Gak tahunya dua hari lalu booming. Mencapai 11.000. Waktu bitcoin mulai menggigit dunia tidak terlalu banyak yang khawatir. Banyak pemerintah yang melarang penggunaan bitcoin. Tapi kali ini Facebook yang terjun. Usia bank sudah lebih 1000 tahun. Sejak ada bank pertama di Italia tahun 600 masehi. Atau sekitar itu. Facebook menganggap usia 1000 tahun sudah sangat tua. Untuk diikuti manusia muda sekarang ini.(Dahlan Iskan) https://www.disway.id/r/495/libra-bitcoin