Minggu, 13 Oktober 2019

BRAIN WASH

Dibawah ini tulisan tentang bagaimana brainwashed bisa terjadi.... Namanya Akhmad..., dia adalah Jokower sejati. Menurut dia..., Jokowi adalah orang hebat yang telah dikirimkan Tuhan untuk membangun negeri ini. Saya suka geli sendiri..., melihat betapa fanatiknya Akhmad pada mantan Walikota Solo tersebut. Postingannya di Facebook hampir semuanya tentang Jokowi..., bahkan dia telah mencuri start untuk mengampanyekan Jokowi agar terpilih 2 periode di pemilu 2019. Mengetahui bahwa saya juga pendukung Jokowi..., Akhmad seneng banget. Dia sering ngirim WA tentang kebijakan-kebijakan Presiden kita ini...; bagaimana Jokowi mendahulukan sila ke lima tentang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Berita-berita tentang Jokowi membangun infrastruktur di Indonesia Timur..., saya peroleh lengkap dari Akhmad. Sampai suatu hari..., dia tiba-tiba menghilang. Dia berhenti memposting broadcast tentang Jokowi..., bahkan boleh dibilang dia gak pernah posting apapun lagi. Penasaran yang membukit membuat saya gatel dan mengirim WA ke dia..., bunyinya singkat saja..: “Apa kabar, Mad...?” Dan tau gak apa jawabnya...? Akhmad membalas WA saya panjang banget..., isinya pun diluar dugaan saya. Begini isi WA nya...: “Terima kasih Bud..., loe orang yang baik hati..., mau menanyakan kabar gue..., semoga loe juga mau untuk bergandengan tangan sama gue untuk berjuang. Kita harus bergerak Bud..., kita harus berjuang menyelamatkan negeri ini. Jokowi adalah orang yang haus kekuasaan..., dia sampe menghalalkan segala cara demi menduduki jabatan sebagai pemimpin negeri ini. Dia bahkan mau menjual negara ini ke tangan China..., dia antek aseng.., dia PKI. Dan itu masih belum seberapa...; yang paling bikin gue sakit hati.., hanya untuk kekuasaan..., Jokowi begitu sampai hati memusuhi umat islam. Sekali lagi..., kita harus berjuang Bud...; jangan sampe negeri ini terjajah oleh China..., kita harus gagalkan niat Jokowi untuk menjadi presiden kedua kalinya. Apapun harus kita lakukan...! Kita jihad Bud...; nyawa pun akan gue korbankan untuk melawan musuh islam. Takbiiir....! Allahu Akbar...!" Sumpah..., saya kaget banget membaca messagenya. Kok tiba-tiba anak ini bisa berubah 180 derajat...? Apa yang terjadi dengan Akhmad...? Karena penasaran..., akhirnya saya ajak Akhmad untuk ngopi bareng di sebuah coffee shop di Citos. “Kok loe mendadak bisa berubah begitu Mad...? Bukankah selama ini loe Jokower...?”, tanya saya sambil menghirup Hot Cappucinno kesukaan saya. “Kita selama ini tertipu Bud..., Jokowi itu ternyata serigala berbulu domba...”, jawab Akhmad. “Berbulu domba gimana...?”, tanya saya kebingungan. “Selama ini Jokowi cuma pencitraan doang Bud. Dia berlagak sederhana..., berlagak mencintai rakyat..., berlagak membangun infrastruktur untuk kesejahteraan rakyat...” “Membangun infrastruktur kok bisa belagak...?” Makin puyeng nih kepala gue. “Sebetulnya dia pengen ngejual negeri ini ke China Bud. Semua proyek yang dia bangun semua dikasihkan ke kontraktor China..., dari perusahaan sampe tenaga buruhnya didatangkan dari China...; emang loe gak tau udah jutaan buruh China menyerbu negeri kita...? Padahal rakyat butuh lapangan kerja....” “Heh...? Loe jangan fitnah Mad...; gue juga denger semua berita itu..., tapi semuanya datang dari media abal-abal..., dan berita itu semuanya hoax...!”, kata saya agak keras. “Hoax gimana...? Semua ada datanya..., dan loe tau gak kenapa Jokowi mau ngejual negeri ini ke China...?” “Kenapa....?” “Karena dia keturunan PKI. Loe tau kan..., China itu negara komunis....”, Akhmad bicara sambil berteriak keras..., sehingga tamu-tamu lain menengok ke arah meja kami. “Ngaco loe....!”, kata saya. “Loe yang ngaco...!”, bentak Akhmad dengan suara garang...! “Gue bersyukur banget akhirnya bisa mengetahui belangnya Jokowi. Dia itu antek Aseng...! Bahkan untuk ngejual negeri ini pun dia tega-teganya sampai memusuhi Islam. Sadar Bud...., sadaaaar....!” Suasana mendadak jadi panas. Kami berdebat dengan hebatnya..., dan Akhmad emosinya semakin meninggi. Saya heran bukan main. Selama ini Akhmad selalu bersikap lemah lembut pada saya..., dia adalah orang yang sangat sabar. Biasanya dia mau ngedengerin pendapat orang lain. Tapi kali ini dia bersikap sangat garang..., sepertinya siap mengajak berkelahi. Saya berusaha mendebat Akhmad dengan data-data yang saya peroleh dari media mainstream..., namun Akhmad semakin murka. “Goblok...! Manusia goblok...! Loe gak sadar selama ini diboongin sama Jokowi...?” Dia memaki saya dengan kata kasar..., yang belum pernah sekalipun dia lontarkan ke saya. “Mad.., loe jangan kasar ya ngomong sama gue...! Jangan bikin gue marah...”, saya memperingatkan. “Loe yang bikin gue marah...! Goblok boleh..., tapi jangan diborong semua. Insyaf Bud..., insyaf...!” Saking murkanya..., saya berdiri dan mencengkram kerah baju Akhmad dengan tangan kiri..., sementara tangan kanan siap memukul..., karena gak tahan dihina seperti itu. Akhmad diam tidak bergerak..., tapi parasnya juga tidak menunjukkan rasa takut. Dia melotot ke arah saya..., tanpa mengucap sepatah kata. Saya masih memegang kerah baju Akhmad..., orang-orang di kafe semua menatap kami..., dan berharap ada drama yang terjadi di antara kami. Saya mengambil napas berkali-kali..., untuk meredakan amarah yang bergolak di dada. Alhamdulillah..., saya berhasil menahan diri untuk tidak nonjok mukanya. Saya lepaskan Akhmad..., hingga terduduk kembali di bangkunya. Dengan perasaan gondok..., saya berjalan ke kasir dan membayar bill kami berdua. Sebelum pergi..., saya menghampiri Akhmad yang masih duduk memandang saya dengan pandangan aneh. “Gue cabut dulu Mad. Gue gak tau apa yang terjadi..., tapi loe udah jadi orang aneh sekarang...” “Gue dapet hidayah Bud..., dan gue mau membimbing eloe ke jalan Surga..., tapi loe malah marah ke gue. Jadi sebenernya yang aneh itu siapa...?” “Dapet hidayah...? Jangan-jangan loe juga percaya ya..., kalo bumi itu datar...?” tanya saya. “Memang bumi itu datar. Loe kira bumi itu bulat...? Dasar thogut...!” “Hah....? Mad..., dari mana loe dapet info bumi itu datar...?” “Al-Hijr ayat 19...: dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran....” Kembali saya terpaku mendengar omongannya Akhmad. “Surat Al-Baqarah 22...: Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap…”, kata Akhmad lagi. Saya shock mendengar omongan temen saya ini..., dia sarjana S1 dan salah satu lulusan terbaik di kampusnya dulu..; tapi bisa punya pendapat seperti itu. “Surat Qaaf 7...: Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…” “Mad..., dengerin omongan gue…”, selak saya..., tapi Akhmad masih mengoceh terus. “Surat An-Naba’ ayat 6-7..., Surat Al Gasyiah ayat 20...; semua mengatakan telah kuhamparkan bumi. Hampar itu seumpama sajadah..., jadi pasti datar. Kalo loe masih ngotot mengatakan bumi itu bulat..., berarti loe emang thogut....” “Mad..., tafsir itu cuma dipake untuk sesuatu yang belum diketahui. Karena belum diketahui..., makanya manusia menafsirkan. Jaman sekarang udah ada foto-foto dan video sebagai bukti otentik bahwa bumi itu bulat...". “Dari mana loe tau foto-foto itu...? Dari NASA...?” “Ya banyak...! NASA cuma salah satunya aja...” “Terus loe percaya sama omongan orang kafir...? Loe seharusnya lebih percaya sama Allah daripada orang kafir....” “Eh Mad..., gue percaya 100% sama Allah...; yang gue gak percaya itu eloe..., bumi kok datar...? Waktu acara pembagian otak dari Tuhan..., loe gak hadir ya...?” kata saya mulai emosi lagi. “Kalo percaya sama orang kafir..., maka loe juga kafir. Kalo loe sebagai kafir tapi masih mengharapkan surga..., berarti loe munafik..., thogut...!” Nyerah deh..., gue. Daripada saya tonjok beneran..., akhirnya saya pergi meninggalkan Akhmad. Sewaktu melangkah menjauh..., masih terdengar suaranya berteriak dengan lantang. “Orang kafir dan munafik kayak eloe tempatnya di neraka Bud. Allah menawarkan surga dengan 70 bidadarinya yang senantiasa perawan untuk melayani eloe..., malah loe tolak. Dasar kafir...!”. Saya berjalan terus ke arah area parkir sambil menulikan telinga..., tapi suara Akhmad sayup-sayup masih terdengar. “Kalo masih mendukung Jokowi..., lebih baik kita gak usah berteman lagi. Gue gak mau berteman dengan musuh islam...! Daripada bermusuhan..., lebih baik kita tidak berteman...!”, kata Akhmad lagi. Sehabis pertemuan itu..., saya baru menyadari ternyata bukan cuma Akhmad..., tapi ada banyak temen-temen saya yang berubah seperti Akhmad. Sebenernya saya gak masalah mempunyai temen yang berbeda pilihan politik...; yang saya heran adalah kenapa orang yang awalnya mendukung Jokowi..., sekonyong-konyong pindah haluan dan berbalik membencinya setengah mati. Anehnya..., karakter orang tersebut juga berubah menjadi pemarah. Mereka sulit sekali diajak berdebat dengan kepala dingin. Mereka rata-rata bersikap sebagai pemegang kebenaran..., mereka gak pernah peduli pada data..., pokoknya apa yang mereka yakini adalah yang paling benar. Semua yang tidak sehaluan langsung dituduh kafir..., munafik..., dan musuh islam. Peristiwa dengan Akhmad membuat saya merasa perlu berkonsultasi dengan kawan lama saya..., Bagus. Dia adalah kawan sesama pecinta alam..., yang sekarang bekerja sebagai psikolog. Bagus juga seorang konsultan politik..., sehingga dia banyak tahu seluk-beluk seputar kegilaan pilpres ini. Di ruang meeting kantornya..., kami berdua berdiskusi soal politik. Panjang lebar saya bercerita pada Bagus..., pengalaman saya bersama Akhmad beberapa waktu yang lalu. “Loe pernah denger istilah Reptilian Brain...?”, tanya Bagus setelah saya menyelesaikan cerita. “Reptilian brain..., apa itu...?” “Ada orang yang bernama Paul D. MacLean. Dia seorang physician and neuroscientist..., yang memperkenalkan teori triune dalam otak manusia...” “Triune...?” “Triune itu sendiri artinya three in one...” “Sebentar-sebentar. Coba loe terangin ke gue..., seakan-akan gue anak SD”, protes saya. “Menurut teori ini..., otak manusia sebenarnya terdiri dari tiga bagian. Otak reptil..., otak mamalia..., dan neo cortex..., atau biasa disebut dengan human brain....” “Buset...! Kok makin susah aja ngertinya...” “Kalo kita mengikuti teori evolusi..., otak reptil ini adalah jenis otak yang pertama kali dimiliki oleh manusia purba..." "OK. Terusin cerita loe..." "Otak reptil tidak berbeda dengan binatang. Jadi manusia kala itu bertindak tanpa mikir..., alias hanya mengandalkan insting. Dengan kata lain..., dahulu kita adalah binatang berbentuk manusia..., karena kita belum memiliki human brain...” Saya makin kebingungan mendengar penjelasan Bagus. “Otak reptil sifatnya untuk survive. Tindakannya hanya pada wilayah...: Fight..., flight..., food..., fuck. Agar gampang diingat..., orang biasa menyebutnya 4F...” “Okay..., lalu...?” “Fight dan flight itu adalah situasi ketika kita dihadapkan terhadap ketakutan (fear). Ketika berhadapan dengan ketakutan..., insting kita akan mempunyai dua pilihan...; apakah melawan (fight)..., atau melarikan diri (flight)...." Bagus behenti sejenak untuk menunggu reaksi saya..., tapi saya memutuskan untuk menunggu kelanjutan omongannya. “Sementara..., Food adalah naluri untuk mempertahankan hidup..., karena semua makhluk hidup perlu makan. Dan fuck adalah naluri mencari pelampiasan..., ketika libido menyerang dan menuntut kepuasan seksual. Semua insting spontanitas ini dikendalikan reptilian brain...” Saya berusaha untuk fokus pada cerita Bagus..., yang amat sulit dipahami. “Inget gak loe..., waktu SD..., kita diajarkan oleh guru bahwa gerak refleks adalah gerakan otomatis..., yang tidak diperintah oleh otak...” “Iya.., inget...” “Nah..., sebenarnya yang mengatur gerak refleks tersebut adalah otak reptil. Otak reptil bertugas mengatur gerak refleks dan keseimbangan koordinasi pada tubuh manusia. Ketika bahaya mengancam dengan tiba-tiba..., otak reptil inilah yang memberi komando untuk bereaksi...” “Oh..., gue ngerti sekarang. Tapi apa hubungannya dengan peristiwa yang mengubah Akhmad...?” “Loe pernah denger teori Firehose of Falsehood...?” tanya Bagus lagi. “Ya taulah. Itu kan strategi yang dipake sama Donald Trump ketika mengalahkan Hillary Clinton saat pemilu di Amerika, kan...?”. “Betul. Loe tau bagaimana cara Trump menggunakan strategi itu...?” “Kalo gak salah dia mengimplementasikan teorinya Hitler..., yang pernah mengatakan..., bahwa kebohongan yang dilakukan secara terus menerus..., lama kelamaan akan menjelma menjadi sebuah kebenaran...” “Tepat sekali. Di Amerika..., kebohongan Trump sering disebut dengan fake news..., dan kebohongan itu sengaja didesain untuk menciptakan ‘FEAR’ pada masyarakat Amerika...” “Ah..., iya betul. Bagian itu gue setuju...” “Trump menggunakan isu agama..., dengan mengatakan bahwa Islam itu teroris. Dia juga menggunakan isu ras..., dengan mengatakan bahwa pengungsi itu berbahaya...; makanya dia akan membangun tembok besar di perbatasan Mexico...” “Loe kok pinter banget Gus...? Iya..., gue pernah baca itu semua....” “Trump juga bilang..., bahwa tenaga asing akan merebut lapangan kerja di Amerika. Dia juga menakuti-nakuti rakyatnya..., bahwa negara China sangat membahayakan perekonomian negeri adidaya tersebut...” “Terus apa hubungannya semua itu dengan topik kita...?”, tanya saya kebingungan. “Trump menciptakan ‘fear’ yang luar biasa..., dan sasaran semua kebohongan itu ditujukan langsung ke otak reptil rakyatnya...” "Oh..., jadi otak reptil kita masih ada...?" "Masih. Otak reptil itu yang diserang secara terus menerus tanpa jeda..., sehingga human brain gak sempet bekerja. Mereka gak sempet meggunakan logika..." "Kenapa Akhmad jadi pemarah...?" "Karena reptilian brain itu otak binatang. Mereka lagi diserang 'FEAR'..., makanya naluri binatangnya berusaha melawan dan mempertahankan diri..." "Akmad sarjana loh..., kok bisa-bisanya percaya bumi itu datar...?" “Mau S1 atau S3 gak ada bedanya. Mereka gak bisa berpikir dengan logika..., karena otak reptil yang diberondong dengan fake news tidak sempat masuk ke human brain...” “Oh ya..., lalu apa yang terjadi...?” “Karena ditembakkan terus menerus dengan berita bohong..., fake news tersebut langsung masuk ke subconscious mind..., dan menjelma menjadi believe system...” “Gila...! Padahal kalo udah masuk ke believe system..., susah banget disembuhkannya ya...?” “Susah banget..., korbannya sudah seperti di-brainswashed. Mereka akan kebal terhadap data dan fakta...” “Maksudnya...?” “Kita gak bisa berdebat dengan orang semacam itu..., Mereka gak percaya pada data dan fakta. Fake news yang telah masuk ke Believe system..., perlu terapi khusus untuk menyembuhkannya...” “Wuiiih.., mengerikan banget ya...?” “Sangat mengerikan. Makanya Scott Pelley..., seorang jurnalis Amerika..., pernah mengatakan ‘I believe the fastest way to destroy democracy is to poison the information...’” “Siapa lagi itu Scott Pelley...?” “Scott Pelley itu news anchor di Televisi CBS News..." Selesai meeting dengan Bagus.., saya kembali ke kantor...; Pemilu kali ini bener-bener gak masuk akal. Entah berapa banyak saya kehilangan teman..., cuma gara-gara pilpres. Gak ilmiah banget..., kesel saya...! Tapi..., ya sudahlah..., gak papa kok kehilangan teman. Ada bagian dari omongan Akhmad yang saya sangat setuju...: "Daripada bermusuhan..., lebih baik kita tidak berte merdeka.

Jumat, 04 Oktober 2019

Gebyar Pelantikan DPR

GEBYAR PDPR...
 Baru saja kita selesai dengan pelantikan anggota DPR periode 2019-2024. Semua stasiun TV menyuguhkan tayangan upacara tersebut. Nitizen disuguhi foto dan video anggota DPR terutama yang baru, yang dianggap menarik untuk disimak. Foto Selebritis wanita yang cantik-cantik, laki-laki gagah perkasa dengan tiga isteri, sampai pada foto anggota yang baru saja dilantik sedang tidur lelap dikursinya, semua beredar dengan komentar yang beraneka ragam. Tidak kalah serunya, foto/video para tokoh undangan yang menghadiri pelantikan anggota DPR. Saat itu Gedung Nusantara 1, ibarat gedung tempat upacara penyerahan piala Oscar dimana para aktris dan aktor berjalan di karpet merah. Hari-hari berikutnya acara televisi tetap di padati dengan kegiatan anggota DPR/DPD/MPR. Semuanya meriah, penuh tawa ceria, menggambarkan kemakmuran para wakil rakyat Indonesia. Bagaimana bisa dikatakan makmur atau kaya? Logika sederhana, biaya kampanye untuk menjadi Yang Mulia anggota DPR pasti besar. Bukan sekedar bilangan juta, tetapi bilangan milyar. Berapa nol nya? Petani, tukang becak atau bakul pecel susah membayangkannya. Padahal mereka adalah rakyat yang diwakili oleh Yang Mulia Anggota DPR. Begitu juga gaji yang akan diterima oleh Yang Mulia, sungguh fantastis...tidak masuk akal; sangat luar biasa; sangat hebat menurut rakyat biasa. Mengapa individu yang sudah kaya masih ingin menjadi anggota DPR dengan gaji, fasiltas yang aduhai? Teori kebutuhan/ motivasi oleh Alderfer, yang disebut Teori ERG (Existence,Relatednes, Growth) bisa menjelaskannya. Existence atau keberadaan adalah suatu kebutuhan akan tetap bisa hidup yaitu meliputi kebutuhan fisiologis ( gaji, makanan/minuman, dan sex) dan ditambah kebutuhan akan rasa aman (asuransi, pensiun dll) Relatedness atau hubungan mencakup kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain Growth atau pertumbuhan adalah kebutuhan yang mendorong seseorang untuk dihargai, dan memiliki pengaruh terhadap diri sendiri atau lingkungan. Semua kebutuhan yaitu : gaji besar, asuransi, pensiun, penghargaan sebagai Yang Mulia dan perwujudan diri/aktualisasi diri muncul bersamaan sekaligus, dalam diri calon anggota DPR tanpa harus berurutan. Peluang dan kepastian mendapatkan semuanya terbuka lebar dengan berkantor di DPR. Proses untuk menjadi Yang Mulia anggota DPR, sesuai dengan peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Mari kita lihat sejarah DPR Pada awal kemerdekaan, lembaga-lembaga negara yang diamanatkan UUD 1945 belum dibentuk. Maka, sesuai pasal 4 aturan peralihan dalam UUD 1945, dibentuklah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Komite ini adalah bakal calon badan legislatif di Indonesia. Anggota KNIP berjumlah 60 orang. Sumber lain ada yang menyebutkan jumlahnya 103 anggota. Dalam Sidang KNIP yang pertama telah ditentukan empat pimpinan susunan pimpinan sebagai berikut: Mr. Kasman Singodimedjo sebagai ketua. Mr. Sutardjo Kartohadikusumo sebagai wakil ketua I. Mr. J. Latuharhary sebagai wakil ketua II. Adam Malik sebagai wakil ketua III. Berapa gajinya? Tidak ada data mengenai hal tsb. Pada masa Republik Indonesia Serikat (1949-1950), badan legislatif terbagi menjadi dua majelis, yaitu Senat dengan jumlah anggota 32 orang, dan Dewan Perwakilan Rakyat yang anggotanya berjumlah 146 orang (49 orang dari anggota tersebut adalah perwakilan Republik Indonesia dari Yogyakarta). Selanjutnya sampai sekarang nama Dewan Perwakilan Rakyat tetap dipakai. Kembali pada rakyat yang diwakili anggota DPR. Ada baiknya kita melihat Angka pendapatan per kapita yang merupakan ukuran paling sederhana yang dapat merepresentasikan tingkat kesejahteraan sebuah negara. Dari sebelas negara yang ada di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat kelima dengan angka pendapatan per kapita, dibawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand (per Oktober 2017). Bangsa Indonesia dengan kekayaan Sumber Daya yang dimiliki, pasti akan bisa mengungguli negara tetangga, asal semua lembaga negara bekerja keras untuk menjadi juara Asean. Upaya untuk menjadi juara Asean sudah dilakukan oleh pemerintah (Eksekutif). Bagaimana dengan Legislatif ? apakah penampilan, pendapatan dan fasilitas dan anggota DPR merepresentasikan upaya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia yang katanya mereka wakili? Rakyat hidup pas-pasan tetapi wakilnya gemerlapan, bergelimang kemewahan. Bagaimana kalau nama Dewan Perwakilan Rakyat dengan singkatan DPR disesuaikan menjadi Dewan Perwakilan Perjuangan Rakyat (DPPR) atau Dewan Perjuangan Rakyat (DPR). Agar semangat para anggota dewan untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia menjadi masyarakat sejahtera, adil dan makmur lebih lama membara. Hadir dalam rapat-rapat dari awal sampai akhir, menjalankan tugas dengan penuh jawab, berintegritas selama masa jabatan. Atau kalau sulit merubah nama DPR, akan lebih mudah merubah perilaku bermewah-mewah memakai uang rakyat yang mereka wakili. Sekaligus tidak menyakitkan hati rakyat. “Orang yang mencari kebenaran tetapi malu berpakaian sederhana adalah orang yang tidak perlu kita ajak bicara” Konfusius Filsuf dari Tiongkok. Merdeka! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 Retno Triani Soekonjono Psikolog

Kamis, 26 September 2019

Demo Mahasiswa 25 september 2019

MAHASISWA BANYAK TUNTUTANMU. APA SUMBANGANMU PADA NEGARA?
 Beberapa hari ini mahasiswa dengan gagah berani dan garang turun kejalan untuk menyampaikan aspirasinya kepada DPR dan Pemerintah. Tuntutan utama adalah adalah pembatalan RKUHP yang dianggap mengandung pasal-pasal kontroversial dan pembatalan UUKPK yang sudah disahkan. Namun ada pernyataan menarik dari wakil mahasiswa, yaitu dari Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Swasta Jakarta, kepada Kompas.com. yang menyatakan bahwa Mahasiswa Demo Bukan untuk lengserkan Jokowi, Melainkan Hanya Menuntut Pembatalan RKUHP dan UU KPK. Dia menilai kedua rancangan undang-undang tersebut tak sesuai dengan amanat reformasi. Hal senada juga diucapkan oleh pencetus penggalangan dana untuk aksi demo mahasiswa tanggal 23-24 September 2019. Melalui laman penggalangan dana yang dibuatnya, mantan personel grup musik itu menyebut bahwa aksi ini bukan untuk menggulingkan Presiden Jokowi dari jabatannya. Melainkan, para mahasiswa menuntut agar kebijakan-kebijakan Jokowi sejalan dengan janji-janjinya. Hari minggu tanggal 23 dan 24 September 2019, mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia melakukan aksi unjuk rasa. Bahkan tanggal 25 September pelajar SMU dan SMK ikut kakak-kakaknya turun kejalan. Dari pengalaman -pengalaman di dalam negeri ataupun diluar negeri, demo atau unjuk rasa yang semula diinginkan berjalan damai hampir selalu berakhir dengan ricuh, anarkhis disertai perusakan. Sudah pernah saya tulis bahwa ketika sekumpulan orang berkumpul menjadi suatu massa, maka kepribadian atau jiwa orang-perorangan hilang digantikan dengan jiwa massa. Massa dapat bertindak secara primitif dan tidak rasional karena individu yang menjadi bagian dari massa dan dipengaruhi sikap serta tindakan karena adanya massa yang hadir.” (Gustave Le Bon) Seseorang yang terlibat dalam massa cenderung kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, serta melakukan tindakan kasar dan irasional yang berlawanan dengan kebiasaan2nya. Mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan dapat menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa dengan pendidikannya akan memiliki kemampuan berfikir, dan kepekaan sosial serta sikap kritis, dan dikemudian hari diharapkan mahasiswa mampu menjadi pengontrol sebuah kehidupan sosial dalam masyarakat dengan cara memberikan saran, kritik dan juga solusi untuk permasalahan sosial masyarakat maupun permasalahan bangsa. Sebab mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Kepedulian tersebut bukan hanya diwujudkan dalam bentuk demo ataupun turun kejalan saja, tetapi dengan pemikiran-pemikiran cemerlangnya, diskusi-diskusi, atau memberikan bantuan moril dan juga materil kepada masyarakat serta bangsa. Aksi demo yang dilakukan mahasiswa saat ini disebabkan karena mahasiswa merasa bahwa mereka dan masyarakat tidak diikut sertakan dalam penyusunan rencana kedua undang-undang tersebut dan DPR mencederai demokrasi. Pemerintah dan DPR memahami ada sumbatan komunikasi yang terjadi selama ini. Pemerintah dan DPR sadar bahwa kepentingan bangsa diatas segala-galanya, maka tuntutan mahasiswa yang menolak RKUHP sudah dikabulkan dengan menunda pengesahannya sampai DPR yang baru bersidang. Pemerintah dan DPR berjanji akan membuka dialog selebar-lebarnya. Walaupun sebenarnya pada waktu menyusun RKUHP, sudah mengakomodir masukan dari berbagai masyarakat. Tuntutan pembatalan UUKPK yang sudah disahkan, bisa dilakukan melalui Mahkamah Konstitusi, bukan dengan demo dijalan. Karena negara ini adalah negara hukum. Apalagi yang mahasiswa inginkan atau tuntut pada Pemerintah dan DPR? Mengapa masih melakukan demo? Tidak salah bila ada pemikiran bahwa ada agenda tersembunyi dibalik tuntutan yang diutarakan. Sadarkah bahwa aksi turun kejalan yang dilakukan mahasiswa telah ditiru oleh adik-adiknya siswa SMU/SMK yang sudah dirasuki sifat Hero yang sering mereka tonton/lakukan dalam games yang menjamur didunia maya. Karena usia yang masih muda, maka dalam mewujudkan sifat Hero seringkali berubah menjadi perilaku Agresif dan Vandalisme, perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. Tuntutan mahasiswa adalah mulia, peduli pada kepentingan masyarakat, tetapi pertanyaannya, apakah kewajiban mahasiswa dalam bela negara sudah dilakukan? Apakah mahasiswa ikut berpartisipasi aktif dalam pemadaman hutan? Apakah mahasiswa ikut membantu pemerintah dalam meyakinkan masyarakat Papua bahwa seluruh masyarakat Indonesia mencintai mereka? Apakah mahasiswa ikut membantu menangani bencana alam? Apakah mahasiswa juga ikut menjaga agar anak bangsa tidak kecanduan narkoba? Dan pertanyaan terakhir, apakah mahasiswa ikut mengatasi kerusuhan yang timbul sebagai dampak demo yang mereka lakukan saat ini? Adik-adik siswa-siswa SMU/K sedang dirusak moralnya, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang senang melihat moral bangsa hancur. Mengapa mahasiswa tidak cepat tanggap bahwa aksi siswa yang masih dibawah umur, memerlukan penanganan yang sangat hati-hati? Mengapa mahasiswa tidak ikut cuci “piring yang kotor” setelah mereka selesai makan? Banyak sekali pertanyaan sekaligus harapan yang ditujukan pada mahasiswa sebagai manusia dewasa yang berpendidikan tinggi. Masa depan bangsa dan negara ada ditangan mahasiswa, putera/putri bangsa yang cerdas dan santun Harapan masyarakat, hendaknya mahasiswa sadar bahwa hak dan kewajiban harus berjalan seiring dan proporsional. “Jangan Tanyakan Apa yang Negara Berikan Padamu, Tapi Tanyakan Apa yang Telah Kamu Berikan pada Negaramu.”. John F Kennedy, presiden ke 35 Amerika Serikat.

Rabu, 25 September 2019

Komunikasj Persuasif kontroversi RUUKUHP

KOMUNIKASI PERSUASIF...

Tadi malam saya lihat acara di salah satu TV swasta. Ada dialog antara beberapa kelompok, topiknya : “Kontroversi RKUHP: Dari Pasal Kumpul Kebo Sampai Penghinaan Presiden“ (24/9/2019) Saya hanya ingin menjelaskan bahwa dalam acara tersebut terjadi komunikasi persuasif yang dilakukan oleh “Kelompok pemerintah dan DPR” yang saya anggap sebagai sumber informasi dan “kelompok mahasiswa dkk” sebagai penerima informasi. Topik ini sangat cocok dengan kondisi saat ini dimana “mahasiswa” diberbagai daerah sudah dua hari melakukan demo untuk menolak disahkannya RKUHP oleh DPR. Rencananya demo mahasiswa masih akan berlangsung beberapa hari kedepan. Kelompok mahasiswa yg diwakili oleh 3 orang wakil mereka mengemukakan faktor2 penyebab mereka melakukan demo. Mereka mengharap Pemerintah dan DPR bekerja untuk kepentingan rakyat dengan hati nurani, dan mereka menyoal sederet pasal kontroversi yang dianggap terlalu masuk ranah pribadi, kebebasan terancam dikebiri, reformasi, sedang “dikorupsi”. Dengan lantang dan gagah berani, serta semangat yang berapi-api, sesuai dengan ciri anak muda atau dewasa awal, mereka mengkritik senior mereka yang mewakili pihak pemerintah dan DPR. Sikap mereka terlihat jelas, menyalahkan DPR dan Pemerintah dan membela rakyat yang oleh mereka dianggap didholimi dengan pasal-pasal yang ada di RKUHP. Namun sayang, ketika pemimpin acara menanyakan apakah dari 3 orang yang mewakili mahasiswa tersebut ada yang kuliah Ilmu Hukum? Ternyata tidak ada. Pemimpin acara sempat menyayangkan dan mengatakan bahwa sebaiknya dalam diskusi yang menyangkut aspek Hukum, pembicara adalah orang yang melek hukum. Sangat berbeda dengan kelompok Pemerintah dan DPR yang diwakili oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dan beberapa anggota DPR yang semuanya adalah pakar hukum dan sangat paham akan seluk beluk ilmu hukum. Saya tidak akan membahas aspek hukum yang diperdebatkan, namun akan membahas aspek komunikasi persuasif yang terjadi. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mempengaruhi sikap seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Komunikator yang ingin merubah sikap lawan komunikasi adalah pihak pemerintah dan DPR. Sedangkan pihak yang ingin dirubah sikapnya adalah mahasiswa yang melakukan demo. Ingin dirubah karena sikap mahasiswa yang berwujud demo dianggap tidak tepat. Selain meresahkan masyarakat, mengganggu ketertiban umum, aksi demo yang semula diinginkan berjalan damai kemungkinan bisa “ditunggangi” oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab sehingga demo berubah menjadi anarkhis. Ternyata memang terbukti. SIKAP. Ada beberapa defini tentang Sikap, antara lain oleh Soetarno (1994) yaitu: sebuah pandangan dan perasaan yang diikuti oleh kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Soetarno menekankan obyek sebagai hal utama untuk pengertian sikap. Komponen sikap ada 3 yaitu: 1. Kognisi: Proses berfikir di mana individu menjadi sadar akan persepsinya terhadap obyek. 2. Afeksi: proses di mana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek. 3. Konasi: Predisposisi perilaku yang sudah sampai tahapan individu akan melakukan sesuatu tindakan/perilaku terhadap objek. Obyek nya disini adalah RKUHP. Mahasiswa berfikir (KOGNISI) bahwa RKUHP merugikan rakyat maka harus dibatalkan pengesahaannya, atau ditunda sampai DPR yang baru. Mahasiswa merasa tidak senang (AFEKSI) terhadap RKUHP yang dibuat oleh DPR bersama Pemerintah karena ada beberapa pasal yang kontroversial. Mahasiswa akan melakukan demonstrasi (KONASI) sebagai wujud penyaluran aspirasi mereka untuk menghentikan pengesahan RKUHP. Kelanjutannya demo memang di lakukan oleh mahasiswa. Sikap ini yang akan dirubah oleh pihak DPR dan Pemerintah melalui tahapan komponen sikap. Pemikiran (kognisi) tentang pasal -pasal bermasalah ternyata TIDAK TEPAT karena mahasiswa tidak membaca secara mendalam. Hanya menerima informasi dari sosmed yang viral yang bersifat menyesatkan. Akibatnya perasaan (AFEKSI) atau emosi negatif muncul. Mahasiswa yang berjiwa muda seringkali mudah tersulut emosinya, sehingga pikiran rasional terganggu atau lenyap. Mahasiswa melakukan demo sebagai perwujudan KONASI, perilaku yang awalnya direncanakan positif, berubah menjadi anarkhis, mengganggu kehidupan bernegara. Lebih jauh lagi, Obyek yang semula adalah RKUHP melebar ke arah Pemerintah pada umumnya dan Presiden pada khususnya. Apakah komunikasi persuasif yang dilakukan pihak Pemerintah dan DPR dalam acara TV tersebut, bisa dikatakan berhasil merubah sikap mahasiswa? Kesan yang saya peroleh tadi malam, perubahan BELUM tampak pada aspek perasaan atau afeksi dan perilaku. Karena tanggapan mahasiswa tetap keras. Mahasiswa tetap merasa tidak senang dan tetap menyalahkan DPR dan Pemerintah. Kemungkinan penolakan terhadap penjelasan pemerintah salah satunya disebabkan oleh HARGA DIRI yang tinggi dari mahasiswa. Mereka tidak mau dianggap tidak mampu berfikir rasional, tidak mau mengakui kekurangan karena mereka merasa sudah masuk dan menjadi anggota dalam dunia kaum Intelektual, dengan kata lain mereka sudah berhak disebut sebagai Orang Pandai. “Menulis adalah baik, berpikir lebih baik. Kepandaian baik, kesabaran lebih baik”. Hermann Hesse Penulis, penyair dan Peraih Nobel sastra (1946) Merdeka! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Jumat, 20 September 2019

Butir butir Pedoman Pada Pancasila

BUTIR-BUTIR PEDOMAN PENGHAYATAN DAN PENGAMALAN PANCASILA

Lima asas dalam Pancasila dijabarkan menjadi 36 butir pengamalan, sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Butir-butir Pancasila ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa.

 I. SILA PERTAMA : KETUHANAN YANG MAHA ESA

 1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama & penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup. 3. Saling hormat-menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

II. SILA KEDUA : KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
 1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. 2. Saling mencintai sesama manusia. 3.Mengembangkan sikap tenggang rasa. 4. Tidak semena-mena terhadap orang lain. 5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan. 7. Berani membela kebenaran dan keadilan. 8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

III. SILA KETIGA : PERSATUAN INDONESIA 1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. 2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. 3. Cinta Tanah Air dan Bangsa. 4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan bertanah Air Indonesia. 5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

IV. SILA KEEMPAT : KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN 1.Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat. 2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. 3.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. 4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan. 5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah. 6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

V. SILA KELIMA : KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
 1.Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong. 2. Bersikap adil. 3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. 4. Menghormati hak-hak orang lain. 5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain. 6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain. 7. Tidak bersifat boros. 8. Tidak bergaya hidup mewah. 9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum. 10. Suka bekerja keras. 11. Menghargai hasil karya orang lain. 12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. 

Rabu, 18 September 2019

PENCIPTAAN KEMAKMURAN

Politik Inovasi Yudi Latif Direktur Sekolah Pancasila Kompas, Rabu, 18 September 2019. Wacana publik akhir-akhir ini, termasuk Pidato Presiden, sering mengeluhkan hambatan kemakmuran yang ditimbulkan oleh gejala deindustrialisasi, defisit perdagangan dan pembayaran, perangkap pendapatan menengah (middle income trap), dan jebakan ekonomi ekstraktif. Namun, nyaris tak ada perhatian politik dan kebijakan strategis untuk melakukan transformasi perekonomian ke arah kemakmuran yang terus meningkat secara berkesinambungan dan inklusif. Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, Indonesia harus mentransformasikan diri dari perekonomian berbasis ekstraktif, pertanian tradisional, dan manufaktur konvensional menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi (knowledge economy). Selama ini, ukuran yang berkaitan dengan total factor productivity dan knowledge economy index menunjukan betapa rendahnya kontribusi nilai tambah iptek dan tingkat inovasi Indonesia bagi pertumbuhan ekonomi. Bisa dipahami bila pada periode kedua pemerintahannya, Presiden Joko Widodo bertekad menggencarkan pembangunan sumber daya manusia, termasuk memberikan perhatian yang serius terhadap kegiatan riset dan inovasi. Sejumlah rencana telah dicanangkan seperti penambahan anggaran riset negara, penyatuan lembaga-lembaga riset di bawah satu badan, bahkan telah mulai “mengimpor” rektor asing demi menggenjot mutu perguruan tinggi. Kebijaksanaan riset-inovasi dan kebutuhan pasar Sebelum pilihan-pilihan kebijakan itu dijalankan, seyogianya pemerintah perlu menetapkan arah kebijakan dan strategi pendekatan yang tepat bagaimana politik inovasi-teknologi harus dikembangkan agar berjalan efektif dalam mendorong kemakmuran bangsa. Perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa hambatan utama pemacuan riset dan inovasi di Indonesia justru terlalu memusat pada inisiatif dan dorongan (push factor) dari negara. Kurang ada terobosan untuk memasyarakatkan hasil riset atau menggairahkan kegiatan riset di jantung masyarakat (pasar). Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan aktivitas riset di negeri ini mewarisi tradisi para apostel pencerahan Eropa yang bekerja untuk kepentingan pemerintah kolonial. Andrew Goss dalam bukunya The Floracrats: State-Sponsored Science and the Failure of the Enlightenment in Indonesia (2011), menyebutnya sebagai tradisi para floracrat; kekuasaan para ilmuwan pecinta bunga yang bekerja di lembaga-lembaga ilmu pengetahun pemerintah kolonial. Di bawah tradisi seperti itu, Ilmuwan/peneliti profesional Indonesia memperoleh legitimasi melalui negara. Pemerintah yang menentukan dan mengendalikan aktivitas riset. Pemerintah pula yang menjadi konsumen utama dari hasil penelitian. Dengan demikian, kendati para ilmuwan memandang dirinya sebagai “pembimbing” masyarakat, pada kenyataannya mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan masyarakat dalam kerangka memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan menghidupkan aktivitas riset dan inovasi di jantung masyarakat. Dengan demikian, “Ilmu pengetahuan tetap menjadi urusan kaum elite pemerintah yang boleh jadi dikerjakan dengan penuh minat dan bakat, namun tetap tidak mampu menerobos pagar tinggi sekeliling Kebun Raya.” Dalam jebakan tradisi seperti itu, berapa pun anggaran riset, badan apapun yang mengoordinasikan lembaga-lembaga riset, dan dari mana pun rektor didatangkan, tidak akan efektif dalam mendorong aktivitas inovasi-teknologi dalam kerangka kemakmuran bangsa. Bagaimana pun juga, riset inovatif itu harus sampai ke pasar (masyarakat). Harus mengikuti kebutuhan dan tarikan (pull factor) dari pasar. Oleh karena itu, selain harus mendekatkan hubungan antara lembaga-lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar, juga harus menjadikan aktivitas riset dan inovasi sebagai bagian organik dari dunia usaha. Relevansi dan urgensi pergeseran kebijakan riset-inovasi dan pembangunan kemakmuran dari dorongan pemerintah ke arah tarikan pasar dijelaskan antara lain oleh Clayton M. Christensen, Efosa Ojomo dan Karen Dillon dalam The Prosperity Paradox: How Innovation Can Lift Nations Out of Poverty (2019). Secara jernih digambarkan, betapa banyak usaha dan sumberdaya telah diguyurkan baik oleh negara maupun lembaga-lembaga internasional untuk mengatasi kemiskinan. Sejak 1960, Official Development Assistance telah menggelontorkan $4.3 trilyun dana asistensi pembangunan dalam rangka memerangi kemiskinan di berbagai negara miskin. Negara Indonesia sendiri telah mengerahkan begitu banyak program dan subsidi bagi kaum miskin. Selain itu, berbagai resep juga telah diberikan, mulai dari dorongan untuk memperbaiki infrastruktur (keras dan lunak), memperbaiki tata kelola negara, menambah bantuan (investasi) luar negeri, meningkatkan perdagangan luar negeri dan sebagainya. Namun, hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Lebih banyak negara tetap dalam jeratan kemiskinan atau jebakan pendapatan menengah-bawah, karena tidak mampu melakukan transformasi perekonomiannya. Banyak negara terlalu menguras energinya untuk mengurusi kemiskinan, tapi kurang memberikan perhatian pada usaha menciptakan kemakmuran. Bahwa menjadi bangsa yang “makmur” (prosper) itu beda dengan bangsa yang “kaya” (rich, wealthy). Sejumlah negara bisa jadi kaya hanya karena memiliki satu-dua sumberdaya alam yang berlimpah. Namun, kekayaan seperti itu tak bisa berkelanjutan, dan tak bisa mendorong mobilitas vertikal secara luas. Untuk menjadi “makmur”, suatu perekonomian harus bisa menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan yang bisa meluaskan mobilitas vertikal secara lebih inklusif. Lewat studi komparatif secara ekstensif terhadap negara-negara yang berhasil mentransformasikan diri dari negara miskin menjadi makmur, Clayton dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa usaha menumbuhkan kemakmuran tak bisa hanya mengandalkan push factor dari negara. Mendorong perubahan konstitusi dan kelembagaan demokrasi, instalasi institusi-insitusi baru, pranata antikorupsi, dan beragam infrastruktur oleh negara mungkin bisa menyelesaikan masalah secara temporer, namun pada umumnya tidak membawa perubahan secara berkesinambungan. Pembangunan dan kemakmuran bisa lebih mudah mengakar di banyak negara manakala terkoneksi dengan aktivitas inovasi di jantung pasar, yang pada gilirannya dapat menarik berbagai sumberdaya yang diperlukan masyarakat. Yang dimaksud dengan inovasi adalah perubahan dalam proses, yang melalui proses itu suatu organisasi melakukan tranformasi pekerja, modal, material, dan informasi ke dalam produk atau jasa dengan nilai tambah yang lebih besar. Setidaknya ada tiga jenis inovasi yang harus dikenali. Pertama adalah “sustaining innovations”; yakni inovasi dalam bentuk perbaikan terhadap solusi-solusi yang telah ada di pasar , yang secara tipikal ditargetkan untuk mempertahankan pelanggan yang menginginkan performa yang lebih baik dari suatu produk atau jasa. Inovasi seperti ini diperlukan oleh suatu negara dan perusahaan agar bisa tetap kompetitif dalam mempertahankan pelanggan. Kedua adalah “efficiency innovations”; yakni inovasi yang memungkinkan organisasi bisa mengerjakan (menghasilkan) lebih banyak dengan sumberdaya lebih sedikit. Efisiensi inovasi sangat penting bagi daya hidup organisasi (usaha) manakala lapangan industri makin sesak dan kompetitif. Ketiga adalah “market-creating innovations”; yakni inovasi yang dapat menciptakan pasar baru karena kemampuan menghadirkan produk atau jasa yang belum ada di pasar; atau produk dan jasa yang sudah ada di pasar, namun dengan lebih murah dan terjangkau oleh kalangan yg lebih luas (non-consumers). Meski sustaining innovations dan efficiency innovations diperlukan bagi keberlangsungan perusahaan, namun keduanya tak begitu menjanjikan perluasan tenaga kerja dan ruang-ruang usaha baru. Untuk itu, usaha kemakmuran harus lebih mendorong “market-creating innovations”. Pengalaman lintas negara menunjukan bahwa inovasi terakhir itu dapat membangkitkan mesin ekonomi suatu negara dengan beberapa dampak ikutan. Pertama, menciptakan pekerjaan—seiring dengan makin banyaknya orang yang diperlukan untuk membuat, memasarkan, mendistribusikan, dan menjual hasil-hasil inovasi baru. Kedua, mendorong kemunculan sektor-sektor usaha baru sebagai dampak ikutan. Ketiga, menciptakan keuntungan dari luasnya bentang penduduk, yang pada gilirannya bisa mendatangkan dana bagi pelayanan publik, termasuk pendidikan, infrastruktur, kesehatan, dan sebagainya. Keempat, memiliki potensi besar untuk membawa serta perubahan budaya dan tata kelola yang lebih kondusif bagi usaha-usaha pemajuan kemakmuran. Dengan demikian, lokomotif kemakmuran itu terletak pada usahawan inovator yang mampu mengembangkan inovasi-teknologi yang dapat menciptakan pasar baru. Dan agar suatu bangsa dapat mempertahankan kemakmuran dalam jangka panjang, diperlukan pemerintahan baik, yang dapat menjaga dan mendukung budaya inovasi. Usaha pemerintah dalam pengadaan kebijakan, tata kelola, dan infrastuktur harus ditempatkan sebagai kerang pendukung dalam mempromosikan usaha-usaha market-creating innovations. Ditilik dari perspektif itu, arah kebijakan pembangunan, riset dan inovasi di Indonesia selama ini terlalu menekankan stategi push factor dari negara. Infrastruktur dibangun tanpa terkoneksi secara erat dengan tarikan dinamika pasar. Berbilang lembaga riset negara terus didirikan, dengan aktivitas dan produk riset yang kurang terhubung dengan kebutuhan pasar; juga tanpa kerangka kebijakan yang dapat menumbuhkan aktivitas riset dan inovasi di dunia usaha, atau memberikan kerangka insentif bagi gagasan-gagasan inovasi yang dapat mengarah pada market-creating innovations. Di Amerika, misalnya, anak-anak muda cemerlang dengan ide-ide teknologi inovatif bisa membangun start-up dengan pinjaman modal ventura. Memang tidak semua berhasil; tetapi selalu ada beberapa yang sukses mengembangkan perusahaan berbasis pengetahuan berskala global, seperti microsoft, apple, facebook, dan lain-lain. Defisit insinyur dan strategi mencegah mismatch Usaha meningkatkan mutu perguruan tinggi juga ditempuh melalui push factor dari negara, dengan jalan pintas “mengimpor” rektor dari luar, tanpa mempertimbangkan soal mutu pendidikan itu dengan ketersambungannya dengan pasar (industri). Selama ini banyak dikeluhkan soal rendahnya proporsi mahasiswa sains-teknologi (keinsinyuran) di perguruan tinggi kita. Jumlah mahasiswa (dan lulusan) bidang keinsinyuran hanya 14% dari jumlah seluruh mahasiswa di Indonesia (sekitar 50% belajar teknik komputer), dengan tingkat putus kuliah paling tinggi (4,66%). Bandingkan dengan proporsi lulusan bidang keinsinyuran di Korea Selatan (38%), China (33%), dan bahkan Malaysia (25%). Akibatnya, Indonesia mengalami defisit insinyur. Di sisi lain, kendati jumlah mahasiswa keinsinyuran itu relatif kecil, faktanya dari sekitar 100 ribu lulusan bidang keinsinyuran, hanya sekitar 5 ribu yang bekerja secara profesional sesuai dengan bidangnya. Alhasil, yang harus dilihat bukan hanya dari sisi penawaran, melainkan juga dari sisi permintaan. Untuk mencegah mismatch antara luaran lembaga pendidikan dengan dunia kerja, yang diperlukan bukan hanya pembenahan perguruan tinggi lewat push factor dari negara, tetapi juga rancangan strategi dan prioritas pembangunan ekonomi-industri yang lebih mendorong ekonomi pengetahuan berbasis inovasi. Apapun usaha kita untuk menggenjot jumlah dan kualitas tenaga keinsinyuran tidak akan begitu efektif tanpa terhubung dengan perluasan kebutuhan inovasi-teknologi dalam dunia industri. Di Korea Selatan, misalnya, perguruan tinggi kelas dunia, dengan urutan di bawah 50 dari 100 universitas terbaik dunia, adalah Pohang University of Science and Technology (POSTECH). Universitas ini didirikan oleh pemilik industri baja terkenal, POSCO, dalam rangka memenuhi kebutuhan teknologi sendiri bagi kemandirain teknologi dan menciptakan koneksi yang erat antara akademia dan industri. Meningkatkan mutu perguruan tinggi lebih dari sekadar usaha meningkatkan jumlah publikasi internasional; melainkan dari kemampuan perguruan tinggi merespon market pull; yang dalam ketersambungan erat antara dunia pendidikan dengan dunia inovasi di jantung pasar, akan melahirkan banyak keahlian, inspirasi dan penemuan; yang pada gilirannya akan memberi wahana yang kondusif pagi peningkatan mutu dan kuantitas publikasi internasional. Singkat kata, untuk menjadi makmur, kita harus melihat kesulitan dan perjuangan hidup rakyat sebagai peluang untuk menawarkan solusi. Lewat inovasi yang dapat menciptakan pasar baru, pekerjaan baru, peluang-peluang usaha baru, budaya dan tata kelola baru, rakyat banyak yang selama ini hanya menjadi penonton dalam aktivitas ekonomi, menjadi ikut terlibat. Kemakmuran dan demokratisasi ekonomi terjadi dengan mobilitas vertikal yang meluas dan inklusif. Untuk itu, sudah saatnya negara mengambil peran tut wuri handayani. Rangsanglah market-creating innovations menjadi pemantik api penciptaan kemakmuran; sedangkan pemerintah dapat memperbesar bara api tersebut dengan berbagai kebijakan, institusi dan infrastruktur yang terkoneksi dengan tarikan kebutuhan inovasi-pasar. Itulah jalan produktif penciptaan kemakmuran kita.