Senin, 26 November 2018

PACASILA PEMERSATU BANGSA INDONESIA

PANCASILA ALAT PEMERSATU!

Berbicara tentang front persatuan nasional tidak bisa dianggap lengkap kalau kita tidak sekaligus berbicara pula tentang Pancasila. Mengapa demikian? Pancasila selalu dikemukakan sebagai filsafat negara Republik Indonesia. Ini ialah karena Pancasila justru mencerminkan kenyataan bahwa rakyat Indonesia meliputi berbagai golongan, sukubangsa serta aliran yang berbeda-beda, sedangkan perbedaan itu bisa dirumuskan dalam satu rangkaian sila-sila yang diakui bersama oleh seluruh bangsa. Justru karena perbedaan-perbedaan itu Rakyat Indonesia membutuhkan front persatuan nasional. Ini mencerminkan toleransi revolusioner yang tinggi yang telah menjiwai gerakan kemerdekaan nasional Indonesia sejak semula dan terutama sejak tahun-tahun duapuluhan.

Jadi filsafat yang digambarkan dalam Pancasila itu ialah filsafat persatuan atau filsafat Gotongroyong. Dalam pidatonya pada tanggal 1 juni 1945 yang berjudul Lahirnya Pancasila, Bung karno berkata : “jikalau saja penas yang lima menjadi tiga dan tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “ Gotong royong!” (Tubapi, hal 37). Oleh karena itulah Presiden Sukarno selalu dengan tepat menamakan Pancasila sebagai pemersatu.

Mari kita memperhatikan benar-benar apa yang dikatakan oleh Presiden Sukarno mengenai hal ini: “Pancasila adalah alat pemersatu bukan alat pemecah belah! Dengan Pancasila, kita juga mempersatukan tiga aliran besar yang bernama Nasakom itu. Jadi jangan mempergunakan Pancasila utnuk memecah-belah Nasakom, mempertentangkan kaum nasionalis dengan kaum agama, kaum agama dengan kaum komunis, kaum nasionalis dengan kaum komunis. Siapa yang main-main dengan Pancasila untuk maksud pengadudombaan itu, ia adalah orang yang sama sekali tak mengerti Pancasila atau orang yang durhaka kepada Pancasila atau orang yang …..kepalanya sinting“. (Resopim, Departemen Penerangan, Penerbitan khusus, no.180, hal 42)

Bukankah ini suatu penegasan yang setegas-tegasnya? Tanpa tedeng aling-aling. Orang yang mempreteli satu sila untuk mengadu salah satu aliran revolusioner lainnya dalam masyarakat adalah orang yang tidak mengerti Pancasila atau orang ….kepalanya sinting. Demikianlah penilaian yang sewajarnya terhadap orang-orang yang mempergunakan Pancasila sebagai pemecah belah.

NASAKOM POROS PERSATUAN NASIONAL

Dan yang sangat penting pula diperhatikan ialah bahwa kalau Bung karno menamakan Pancasila sebagai alat pemersatu, yang dimaksudkan justru ialah alat pemersatu antara tiga aliran besar yang hidup di dalam masyarakat Indonesia, yaitu Nasionalisme, Agama dan Komunisme, atau yang dipersatukan dalam istilah NASAKOM. NASAKOM  juga merupakan bagian daripada filsafat persatuan atau filsafat Gotongroyong Rakyat Indonesia sebab, seperti dikatakan oleh Bung Karno ( juga dalam rapat pidato Resopim, hal 39-40) “ Nasakom adalah kenyataan-kenyataan hidup yang tak dapat dibantah…di dalam masyarakat Indonesia”. Gagasan Nasakom mempunyai akar sejarahnya sejak lahirnya perjuangan kemerdekaan nasional, perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia sejak tahun-tahun duapuluhan. Hal ini dibuktikan antara lain oleh tulisan Bung Karno dalam tahun 1926 yang berjudul “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” (Di bawah Bendera Revolusi hal 1-23). Sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia adalah sejarah berkembangnya tiga aliran ini, Dan sejarah itu membuktikan bahwa selama tiga alisan itu bersatu, maka jalannya gerakan revolusioner kita lancar, sedangkan jika tiga aliran itu terpecah, maka gerakan revolusioner kita berjalan seret. NASAKOM adalah poros daripada front persatuan nasional kita. Menerima Pancasila harus menerima Nasakom. Mengenai hali ini Bung Karno telah berkata dalam pidato Re-so-pim sbb:

“Siapa yang setuju kepada Pancasila, harus setuju kepada NASAKOM, siapa yang tidak setuju kepada NASAKOM sebenarnya tidak setuju Pancasila. Sekarang saja tambah. Siapa setuju kepada Undang-undang Dasar 1945 harus setuju NASAKOM, siapa yang tidak setuju kepada NASAKOM, sebenarnya tidak setuju kepada Undang-Undang Dasar 45“. (Resopim, hal 40 ). Kutipan ini benar-benar menggambarkan kesatuan yang mutlak antara Revolusi 45 yang menjiwai Undang-undang Dasar 45 dengan Pancasila dan Nasakom. Memang Durhaka atau sinting orang-orang yang sampai sekarang tetap tidak mengerti atau tidak mau mengerti kebenaran yang sedemikian sederhana ini.
Dalam perjalanan sejarah telah terbukti bahwa komunis mengkianati Pancasila dengan pemberontakanya tahun 1948 dan kenudian tahun 1965. Akhirnya komunis dilarang di bumi Indonesia.
Nasionalisme dan Agama bersatu untuk melawan komunisme.
Akhir akhir ini gantian ideologi selain Pancasila yang bergerak melakukan kudeta ideologi, yang juga harus di berantas. Pancasila harus menjadi satu satunya Ideologi negara dan dasar negara.

PANCASILA

PANCASILA ALAT PEMERSATU!

Berbicara tentang front persatuan nasional tidak bisa dianggap lengkap kalau kita tidak sekaligus berbicara pula tentang Pancasila. Mengapa demikian? Pancasila selalu dikemukakan sebagai filsafat negara Republik Indonesia. Ini ialah karena Pancasila justru mencerminkan kenyataan bahwa rakyat Indonesia meliputi berbagai golongan, sukubangsa serta aliran yang berbeda-beda, sedangkan perbedaan itu bisa dirumuskan dalam satu rangkaian sila-sila yang diakui bersama oleh seluruh bangsa. Justru karena perbedaan-perbedaan itu Rakyat Indonesia membutuhkan front persatuan nasional. Ini mencerminkan toleransi revolusioner yang tinggi yang telah menjiwai gerakan kemerdekaan nasional Indonesia sejak semula dan terutama sejak tahun-tahun duapuluhan.

Jadi filsafat yang digambarkan dalam Pancasila itu ialah filsafat persatuan atau filsafat Gotongroyong. Dalam pidatonya pada tanggal 1 juni 1945 yang berjudul Lahirnya Pancasila, Bung karno berkata : “jikalau saja penas yang lima menjadi tiga dan tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “ Gotong royong!” (Tubapi, hal 37). Oleh karena itulah Presiden Sukarno selalu dengan tepat menamakan Pancasila sebagai pemersatu.

Mari kita memperhatikan benar-benar apa yang dikatakan oleh Presiden Sukarno mengenai hal ini: “Pancasila adalah alat pemersatu bukan alat pemecah belah! Dengan Pancasila, kita juga mempersatukan tiga aliran besar yang bernama Nasakom itu. Jadi jangan mempergunakan Pancasila utnuk memecah-belah Nasakom, mempertentangkan kaum nasionalis dengan kaum agama, kaum agama dengan kaum komunis, kaum nasionalis dengan kaum komunis. Siapa yang main-main dengan Pancasila untuk maksud pengadudombaan itu, ia adalah orang yang sama sekali tak mengerti Pancasila atau orang yang durhaka kepada Pancasila atau orang yang …..kepalanya sinting“. (Resopim, Departemen Penerangan, Penerbitan khusus, no.180, hal 42)

Bukankah ini suatu penegasan yang setegas-tegasnya? Tanpa tedeng aling-aling. Orang yang mempreteli satu sila untuk mengadu salah satu aliran revolusioner lainnya dalam masyarakat adalah orang yang tidak mengerti Pancasila atau orang ….kepalanya sinting. Demikianlah penilaian yang sewajarnya terhadap orang-orang yang mempergunakan Pancasila sebagai pemecah belah.

NASAKOM POROS PERSATUAN NASIONAL

Dan yang sangat penting pula diperhatikan ialah bahwa kalau Bung karno menamakan Pancasila sebagai alat pemersatu, yang dimaksudkan justru ialah alat pemersatu antara tiga aliran besar yang hidup di dalam masyarakat Indonesia, yaitu Nasionalisme, Agama dan Komunisme, atau yang dipersatukan dalam istilah NASAKOM. NASAKOM  juga merupakan bagian daripada filsafat persatuan atau filsafat Gotongroyong Rakyat Indonesia sebab, seperti dikatakan oleh Bung Karno ( juga dalam rapat pidato Resopim, hal 39-40) “ Nasakom adalah kenyataan-kenyataan hidup yang tak dapat dibantah…di dalam masyarakat Indonesia”. Gagasan Nasakom mempunyai akar sejarahnya sejak lahirnya perjuangan kemerdekaan nasional, perjuangan revolusioner Rakyat Indonesia sejak tahun-tahun duapuluhan. Hal ini dibuktikan antara lain oleh tulisan Bung Karno dalam tahun 1926 yang berjudul “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” (Di bawah Bendera Revolusi hal 1-23). Sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia adalah sejarah berkembangnya tiga aliran ini, Dan sejarah itu membuktikan bahwa selama tiga alisan itu bersatu, maka jalannya gerakan revolusioner kita lancar, sedangkan jika tiga aliran itu terpecah, maka gerakan revolusioner kita berjalan seret. NASAKOM adalah poros daripada front persatuan nasional kita. Menerima Pancasila harus menerima Nasakom. Mengenai hali ini Bung Karno telah berkata dalam pidato Re-so-pim sbb:

“Siapa yang setuju kepada Pancasila, harus setuju kepada NASAKOM, siapa yang tidak setuju kepada NASAKOM sebenarnya tidak setuju Pancasila. Sekarang saja tambah. Siapa setuju kepada Undang-undang Dasar 1945 harus setuju NASAKOM, siapa yang tidak setuju kepada NASAKOM, sebenarnya tidak setuju kepada Undang-Undang Dasar 45“. (Resopim, hal 40 ). Kutipan ini benar-benar menggambarkan kesatuan yang mutlak antara Revolusi 45 yang menjiwai Undang-undang Dasar 45 dengan Pancasila dan Nasakom. Memang Durhaka atau sinting orang-orang yang sampai sekarang tetap tidak mengerti atau tidak mau mengerti kebenaran yang sedemikian sederhana ini.

DEMAGOG

"DEMAGOG"


Demagog adalah penggerak rakyat yang bertujuan meraih kekuasaan dengan cara mengeksploitasi prasangka (menghasut) dan memanfaatkan ketidaktahuan orang banyak sehingga memicu amarah atau kebencian sehingga membuat orang banyak tersebut tidak bisa lagi menerima masukan pendapat dari orang lain.

Demagog merupakan istilah politik yang berasal dari dari bahasa Yunani “demos” yang bermakna rakyat dan “agogos” yang bermakna pimpinan dalam arti negatif. Yaitu pemimpin yang menyesatkan demi kepentingan pribadinya.

Mahfud MD juga pernah menuliskan pengertian Demagog di Majalah Gatra tahun 2007 silam. Ia menulis: “Demagog adalah agitator-penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih tetapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat; bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

Demagog telah muncul sejak zaman Yunani kuno sampai hari ini. Meskipun sebagian besar para demagog ini memiliki kepribadian yang berbeda-beda, tetapi taktik yang mereka gunakan tetap sama sepanjang masa. Contoh para demagog antara lain: Cleon of Athens, Adolf Hitler, Benito Mussolini, Huey Long, Father Coughlin, dan Joseph McCarthy.

11 Metode yang digunakan oleh para Demagog

1. Mengkambinghitamkan

Teknik demagogik paling mendasar adalah mengkambinghitamkan; menyalahkan suatu masalah kepada satu kelompok tertentu, hal ini biasanya berujung kepada etnis, agama, atau kelas sosial yang berbeda.
Misalnya:
- Joseph McCarthy mengklaim bahwa semua masalah AS dihasilkan dari "subversi komunis".
- Denis Kearney menyalahkan semua masalah pekerja di California pada imigran Cina.
- Adolf Hitler menyalahkan orang Yahudi atas kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I serta masalah ekonomi yang datang sesudahnya. Banyak orang kemudian mengatakan bahwa satu-satunya alasan mereka menyukai Hitler adalah karena dia menentang orang Yahudi.

Walaupun berbeda zaman, klaim yang dibuat para Demagog ini kebanyakan sama, seperti contohnya:

"Kami" adalah orang Amerika "sejati"/Jerman/Kristen/dll, dan "mereka", orang-orang Yahudi/komunis/asing/elit/dll, diduga telah menipu "kita" rakyat biasa dan hidup dalam kemewahan berpuluh-puluh tahun dari kekayaan yang seharusnya menjadi milik "kita". "Mereka" berencana untuk mengambil alih kekuasaan dan sudah secara diam-diam menjalankan negara ini. "Mereka" adalah orang-orang tak berperikemanusiaan, penyimpang seksual yang akan merayu dan memperkosa putri "kita", dan jika "kita" tidak mengusir atau memusnahkan "mereka", maka malapetaka akan datang.

2. Fearmongering/Scaremongering

Penyebaran desas-desus yang menakutkan dan berlebihan yang secara sengaja untuk membangkitkan rasa ketakutan publik tentang suatu masalah.

Pemimpin Nazi Hermann Göring menjelaskan bagaimana orang dapat dibuat ketakutan dan mendukung perang yang akan mereka lawan:

"Orang-orang tidak menginginkan perang, tetapi mereka selalu bisa dibawa sesuai keinginan. Yang harus Anda lakukan adalah memberi tahu mereka bahwa mereka diserang, dan mencela para pasifis karena kurangnya patriotisme dan karena sudah mengekspos negara dalam keadaan bahaya".

3. Berbohong

Setelah para Demagog menunjukkan bahaya kepada orang-orang dan mengkritik kebijakan lawan, para Demagog memilih kata-kata mereka untuk menimbulkan efek pada emosi audiens mereka, biasanya hal ini dilakukan tanpa memperhatikan kebenaran faktual atau data yang akurat. Para Demagog biasanya bersifat oportunis. Ketika satu kebohongan tidak berhasil, Demagog cepat berpindah ke kebohongan lainnya.

Joe McCarthy pertama kali mengklaim memiliki daftar 205 anggota Partai Komunis yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Ketika ditekan untuk memberikan nama mereka, McCarthy kemudian mengatakan bahwa untuk sementara catatan itu tidak tersedia untuknya, dia tahu "mutlak" bahwa dari "sekitar" 300 Komunis terdapat 80 komunis sudah dipulangkan oleh Sekretaris Negara. Sepanjang zaman, McCarthy tidak pernah memunculkan daftar komunis yang berada di Departemen Luar Negeri.

4. Orasi yang Menggugah Hati dan Pribadi yang Berkarisma

Banyak demagog telah menunjukkan keahlian luar biasa dalam menggerakkan dan menggugah hati para penonton ke kedalaman emosional yang besar saar berpidato. Terkadang ini karena kefasihan verbal yang luar biasa, karisma pribadi atau bisa kedua-duanya. Hitler mendemonstrasikan kedua hal ini.

5. Menuduh Lawan Terlalu Lemah dan Tidak Mempunyai Loyalitas

Para Demagog terus-menerus menganjurkan kebrutalan untuk menunjukkan kekuatan dan berpendapat bahwa belas kasihan adalah tanda kelemahan yang hanya akan dieksploitasi oleh musuh.

Joe McCarthy terus-menerus menyindir bahwa siapa pun yang menentangnya adalah simpatisan komunis.

6. Menjanjikan Sesuatu yang Mustahil

Teknik demagog lainnya adalah membuat janji-janji hanya untuk efek emosional kepada para penontonnya, tanpa memperhatikan bagaimana cara memcapainya. Para Demagog mengungkapkan janji-janji kosong ini secara sederhana dan teatrikal, tetapi sangat kabur tentang bagaimana mereka akan mencapainya karena biasanya itu tidak mungkin.

Misalnya, Huey Long berjanji bahwa jika dia terpilih sebagai presiden, setiap keluarga akan memiliki rumah, mobil, radio, dan $ 2.000 per tahun. Dia samar-samar tentang bagaimana dia akan membuat itu terjadi.

7. Kekerasan dan intimidasi fisik

Para demagog sering mendorong pendukung mereka untuk mengintimidasi lawan, baik untuk memperkuat kesetiaan di antara pendukung mereka ataupun mencegah orang berbicara atau memberi suara menentang mereka.

"Pitchfork Ben" Tillman berulang kali terpilih kembali ke Senat AS secara luas melalui kekerasan dan intimidasi. Dia berbicara untuk mendukung massa lynch, dan dia mencabut hak pilih sebagian besar pemilih kulit hitam dengan konstitusi South Carolina tahun 1895.

Hitler menulis di Mein Kampf bahwa intimidasi fisik adalah cara yang efektif untuk memindahkan massa.

8. Penghinaan dan Ejekan Pribadi

Banyak Demagog telah menemukan bahwa dengan menghina lawan adalah cara sederhana untuk menutup pertimbangan pemikiran dari ide-ide yang bersaing. Teknik demagogik yang umum adalah memberikan julukan yang menghina lawan, dengan mengucapkannya berulang kali, dalam pidato.

Misalnya, James Curley mengacu pada Henry Cabot Lodge Jr., lawannya dari Partai Republik untuk Senator, sebagai "Little Boy Blue". Joe McCarthy suka memanggil Sekretaris Negara Dean Acheson "The Red Dean of Fashion".

Penggunaan julukan akan mengalihkan perhatian dari isu-isu publik yang penting menjadi gelak tawa.

9. Perilaku Vulgar dan Keterlaluan

Orang-orang mungkin menemukan Demagog melakukan sesuatu yang vulgar atau keterlaluan diluar norma-norma kehidupan akan merasa jijik melihat tingkah mereka. Tetapi Demagog menggunakan penghinaan ini untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan dipermalukan atau diintimidasi oleh yang berkuasa.

Misalnya, Huey Long terkenal mengenakan piyama untuk acara yang resmi di mana orang lain mengenakan pakaian formal. Dia pernah berdiri "telanjang" di hotel suite ketika meletakkan hukum untuk pertemuan fuglemen politik. Long, semata-mata tertarik pada dirinya sendiri. Dia harus mendominasi setiap adegan yang ada di dalam dirinya dan setiap orang di sekitarnya. Dia sangat membutuhkan perhatian dan akan berusaha keras untuk mendapatkannya.

Dia tahu bahwa tindakan yang berani, meskipun itu memalukan bahkan biadab, bisa mengejutkan orang-orang sehingga mudah untuk dimanipulasi.

Dengan tindakannya tersebut, dia akan mendapatkan liputan pers, sehingga bisa menarik lebih banyak perhatian dari masyarakat untuk bergabung.

10. Penyederhanaan Yang Berlebihan

Mengkambinghitamkan adalah salah satu bentuk penyederhanaan yang berlebihan: menangani masalah yang sebenarnya rumit, yang membutuhkan penalaran dan analisis yang dalam, seolah-olah solusi dari permasalahannya sangat sederhana.

Misalnya, Huey Long mengklaim bahwa semua masalah ekonomi AS dapat diselesaikan hanya dengan "berbagi kekayaan". Hitler mengklaim bahwa Jerman telah kalah dalam Perang Dunia I hanya karena "Ada yang Menusuk dari Belakang".

11. Menyerang Media Massa

Karena informasi dari media massa dapat menggerogoti "mantra" para Demagog atas pengikutnya, para Demagog modern sering menyerang media massa yang menentang mereka secara gencar, mengklaim bahwa media massa tersebut secara diam-diam telah melayani kepentingan suatu kelompok.

Joe McCarthy menuduh Christian Science Monitor, New York Post, New York Times, New York Herald Tribune, The Washington Post, St Louis Post-Dispatch, dan tak terhitung media massa terkemuka Amerika lainnya menjadi "lembaran bagi partai Komunis" di bawah kontrol Kremlin.

Dari pengertian Demagog diatas, maka silahkan mencari tahu sendiri siapa sebenarnya yang menjadi demagog di tengah kita selama ini?
Agus Rudianto

Referensi:
- Demagogue - Wikipedia
- “DEMAGOG”, “PROVOKATOR”, dan “MOTIVATOR”- polkam.go.id

Minggu, 25 November 2018

BEDA LUPA DAN PIKUN

Selamat pagi semuanya....🌸☘Maaf baru saya balas pagi ini pak Yan, tadi malam terlalu capek utk menjelaskan.
Point yg mau saya garis bawahi adalah :
Penelitian membuktikan jika pelupa tanda kecerdasan.

Mungkin bisa benar tapi bisa tdk benar dan menyesatkan.
Salah satu teori mengatakan bawa  inteligensi itu terdiri dari 8-9 aspek/kemampuan.
Diantaranya adalah Pemahaman, pengambilan keputusan, Analisa-sintesa,  berhitung, berfikir logis, tiga dimensi, dan Mengingat atau MEMORI
Orang yg CERDAS atau bahasa asingnya SUPERIOR, memiliki aspek2 tsb pada level BAIK, bukan sekedar CUKUP. Salah satu aspek saja yg levelnya KURANG akan menurunkan TINGKAT kemampuan Intelektual seseorang. Dari CERDAS menjadi NORMAL atau Diatas rata-rata. Ini bukan Cerdas atau superior. Contoh konkritnya:
Level aspek Inteligensi biasa dikodekan dg angka (Data Ordinal). Kurang sekali (1), Kurang (2), Cukup (3), Baik (4), Baik sekali (5). Untuk dikatakan orang cerdas dibutuhkan  SEMUA aspek pada taraf minimum BAIK atau level minimum 4. Jadi kalau semua ada 9 aspek maka jumlahnya 9x 4 = 36.  Nah kalau orang pelupa atau pikun, level Memori/ingatannya itu kurang sekali (1) atau kurang (2). Walaupun 8 aspek lainnya Baik (4), 8x4=32, ditambah Memori 1 atau 2, TIDAK MUNGKIN jadi 36. Paling-paling jadi 33 atau 34. Orang tsb bisa dikatakan diatas rata-rata, tapi belum SUPERIOR atau CERDAS.
Memori ada 2 jenis, Short term memory dan long term memory. Short term memory (STM), hanya bisa menyimpan informasi dalam waktu singkat dan dalam jumlah yg terbatas. Informasi ini bila “diulang-ulang” akan dikirim ke Long term memory (LTM) utk disimpan. Bila tdk diulang maka informasi tsb hilang. LTM bisa menyimpan informasi dalam jangka waktu lama dan jumlah tdk terbatas. Namun bila informasi tsb tdk diulang maka dia akan “tidur lelap” susah dibangunkan. Tidak hilang. Ini disebut LUPA. Walaupun sulit bangun karena sdh ketumpukan info baru, tapi kemungkinan bangun itu masih ada. Jenis LTM pun beragam. Ingatan atau info ttg cara naik sepeda atau berenang itu hampir tdk pernah hilang walaupun jarang diulang. Sekali dicoba/dibangunkan akan aktif kembali. Kecuali kena trauma di kepala. Sedangkan Pikun itu, sebentar diberitahu/diberi informasi sdh lupa, maka prosesnya masih ada di STM, info cepat sekali hilang. Belum sempat dikirim ke LTM. Maka pada orang pikun baru saja diberitahu sdh lupa. Karena kemampuan menyimpan info makin rendah.
Begitu kira2 penjelasan ilmiahnya. Tentu saja tdk sesederhana itu. Terimakasih, maaf kalau kurang jelas.
Tambahan Informasi ttg Inteligensi yg saya anggap penting seperti yg diwanti-wanti dosen saya di Ausie.
Hati2 atau JANGAN GEGABAH mengatakan seseorang memiliki Inteligensi TIDAK NORMAL. Artinya bisa diatas Normal/Rata2, atau dibawah Normal/Rata2. Sama bahayanya!!!! Jadi mengatakan orang bodoh ataupun superior itu harus hati2. Karena biasanya taraf Inteligensi itu didapat dari hasil angka perolehan ketika tsb mengerjakan tes inteligensi. Orang dikatakan normal/rata-rata bila angka yg diperoleh itu antara 90-110. Artinya dibawah 90 bisa dikatakan dibawah rata2 atau tidak normal. Yg sering terjadi, psikolog dg entengnya mengatakan sso dg predikat bodoh atau IQ nya jongkok, karena angka yg diperoleh cuma 36 atau bahkan 0. Mana mungkin Sarjana atau Eselon 2 IQ nya jongkok serendah itu. Pastilah dia marah besar bila dikatakan seperti itu. Ukuran orang dg IQ normal secara mudah/sederhana, bila dia bisa menyelesaikan pendidikan SD- SMA kurang lebih selama 12-14 th. Kalau sarjana angka IQ nya rendah sekali itu berarti Idiot atau borderline. Kita semua tahu ciri orang2 yg idiot dari penampilannya. Mana mungkin karyawan eselon 3 atau 2 idiot?  Kesalahan perolehan angka rendah SERING KALI terjadi karena tester KURANG JELAS dalam memberi instruksi!!!!! Tes IQ adalah speed test, yg waktu pengerjaannya sangat cepat. Sdh ada ketentuan waktu utk mengerjakan tiap sub tes.  Ada yg cuma 3 menit bahkan 2,5 menit utk 15 soal. Bayangkan klo orang yg dites belum faham dg cara mengerjakan sub tes tsb, trus tes dimulai.... pasti IQ nya jongkok. Tester muda.... maaf, kurang memahami hal tsb, bahkan dg bangganya mengatakan “Saya hanya memberikan penjelasan satu kali”. Tester macam begini sebaiknya dipecat saja!! Membuat nama psikolog/sarjana psikologi jadi jelek. Dikatakan sebagai orang yg sok pintar, galak, sadis yg dg seenaknya menentukan nasib seseorang. Matur nuwun.

Sabtu, 24 November 2018

PERLAKUKAN USIA SENJA DENGAN BAIK

_*Novelis Tiong Hoa - Yang Jiang menuliskan puisi ini di usia 103 tahun. Beliau wafat usia 105, bulan Mei 2016 yg lalu :*_

_*Perlakukan Usia Senja Dengan Baik*_

_*Musim berganti, tak terasa kita memasuki usia senja*_

_*Sejak tangisan pertama waktu lahir ke dunia hingga rambut berubah putih, beban perjalanan hidup kita dipenuhi aneka pengalaman duka & suka,  pahit & manis, naik & turun. Selanjutnya, bagaimana kita bisa berbahagia di usia senja bergantung pada kondisi fisik & mental kita*_

_*Kebanggaan & kekecewaan hidup sudah ada di belakang kita. Dan sekarang kita melanjutkan hidup keseharian dengan segala rutinitasnya...*_

_*Jika kita pernah memimpikan kemewahan hidup dunia, kini kita menyadari bahwa kehidupan terindah & paling berbahagia adalah memiliki pikiran yang tenang & hati yang tentram*_

_*Tak perlu bingung menunggu kunjungan anak cucu. Mereka memiliki kehidupan pribadi yg harus diurus. Mereka seperti gasing yang tak berhenti berputar. Terjepit antara orang tua & anak2. Yang tua seperti matahari senja, yang muda bak matahari pagi. Dan tentu saja yg muda lebih mendapatkan banyak perhatian. Itu sudah hukum alam. Itulah siklus perjuangan hidup anak manusia yang tak seorangpun bisa menyangkalnya. Ingatlah bahwa anak2 kita selalu lebih sibuk daripada kita*_

_*Dalam hidup entah sebagai suami & istri, atau orangtua & anak. Entah harmonis & intim atau tidak. Masing2 unik & memiliki hidupnya sendiri. Karena itu kita harus belajar mengatasi kesepian dengan menemukan cara menghibur & menyemangati diri sendiri ketika merasa sendirian*_

_*Dalam mencapai usia senja, kita memiliki harga diri & kemurahan seperti siklus 4 musim. Masing2 memiliki keindahan & kebaikannya sendiri. Tersenyum & nikmatilah tiap fase kehidupan...*_

_*Usia senja adalah awal fase hidup yg baik. Tenang, damai, tidak terburu-buru & sukacita. Kita harus mempertahankan damai sejahtera, tidak terlalu menuntut, lebih legowo & pemaaf. Jangan terlalu GR jika diperhatikan ataupun diacuhkan. Tetap tinggal atau berangkat pergi tidak masalah. Tetaplah tersenyum ketika menyambut hari yg baru & berlakulah baik pada diri sendiri*_

_*Jujur & tulus membuat persahabatan langgeng. Jangan mengharapkan balas budi atas apa yg diberikan pada orang lain. Membahagiakan orang adalah prestasi hidup yg besar bukan ?*_
💐🙏

Bio: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yang_Jiang

Kamis, 22 November 2018

KEPASTIAN HUKUM PPPK

Kepastian Hukum PPPK dalam Sistem ASN
Fadhel Maulana Ramadhan, S.H.
Setelah lebih dari 16 (enambelas) tahun akhirnya Pemerintah melakukan perubahan
dalam pengelolaan Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satu perubahan besar ialah mengenai
pembagian jenis kepegawaian yang menjadi salah satu terobosan yang dilakukan oleh
pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Berdasarkan pasal 6 dan 7 UU No. 5 Tahun 2014, ASN terbagi menjadi dua jenis
Kepegawaian yakni PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh
Pejabat Pembina Kepegawaian dan memiliki nomor induk pegawai secara nasional dan PPPK
(Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang diangkat sebagai pegawai dengan
perjanjian kerja oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan kebutuhan instansi
Pemerintah dan ketentuan Undang-Undang.
PPPK lahir sebagai jawaban dari kebutuhan yang mendesak akan sumber daya
manusia mumpuni dan profesional yang selama ini kompetensinya mungkin tidak banyak di
dapatkan pada PNS. PPPK yang berlatar belakang profesional dianggap mampu
menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus secara cepat dan tuntas
sehingga ketika pekerjaan yang ditangani tersebut selesai maka kontrak PPPK pun dapat
selesai, dengan demikian pemerintah tidak punya beban yang terlalu berat dalam
menanggung aparaturnya.
Sayangnya PPPK yang dianggap sebuah inovasi kebijakan ini menimbulkan banyak
kerancuan. Munculnya istilah PPPK sendiri telah banyak menimbulkan perdebatan dan
diskusi kritis di kalangan pemangku kebijakan, pengelola kepegawaian, akademisi, dan
masyarakat. Mengingat kehadiran PPPK ini dianggap tidak lahir pada sesuatu tempat yang
dapat disebut sebagai hal baru.
Kebimbangan arah kebijakan PPPK
Banyak yang mengasumsikan bahwa sebenarnya kehadiran PPPK tidak lebih dari
“mengganti baju” istilah Pegawai Tidak Tetap, Pegawai Honorer, atau Staf Kontrak yang
selama ini banyak dipakai oleh instansi baik di pusat maupun di daerah untuk memenuhi
kebutuhan akan sumber daya manusianya dengan cepat.

PPPK KEDEPAN

Dari pengalaman selama menjadi konsultan menghitung beban kerja PPPK dan menenrukan upah berdadarkan analisis beban kerja, maka yang perli diperrimbangkan adalah lamanya mwreka bertugas sebagai balas jasa pengabdianya.
Dengan kerja tanpa pola karier yang jelas hanya ikatan kontrak maka PPPK belum bisa diandalkan untuk bekerja meraih mada depan yang lebih baik dan lebih sejahtera

POLITIK TRIVITALITAS

Kompas, Kamis, 22 November 2018.


Perkembangan politik kita kian tak bermutu. Antara persoalan dan jawaban tak lagi bersambung. Bangsa ini dirundung banyak masalah fundamental yang memerlukan jawaban substantif secara berkesinambungan. Namun, sepak terjang politik kita malah kian terperangkap di keriuhan remeh-temeh dalam ritual pemilihan lima tahunan dengan daya rusak yang berkelanjutan.

Titik rawan dunia politik kita bisa dilihat dari tiga faktor utama yang menentukan daya sintas negara-bangsa (peradaban): faktor mental-spiritual, faktor institusional-politikal, faktor material-teknologikal. Ranah pertama lazim disebut ranah budaya, sedang ranah kedua dan ketiga lazim disebut ranah peradaban.

Penjelasan tentang ranah mental-spiritual bisa meminjam argumentasi dari Arnold Toynbee dan Oswald Spengler. Dalam pelacakannya terhadap faktor kebangkitan dan kejatuhan sekitar dua puluhan peradaban, Toynbee mengaitkan disintegrasi peradaban dengan proses melemahnya visi spiritual peradaban tersebut. Hal senada dikemukakan oleh Spengler. Bahwa kemunduran peradaban (Barat) disebabkan oleh pudarnya “jiwa” budaya (spirit, etika, mindset) yang menjadi elan vital peradaban.

Penjelasan tentang ranah institusional-politikal antara lain dikemukakan oleh Daren Acemoglu dan James A. Robinson. Dalam karya bersamanya, Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty (2012), ditengarai bahwa sebab pokok kegagalan suatu negara-bangsa bukan karena kurang adidaya atau sumberdaya, melainkan karena salah urus, alias salah desain kelembagaan dan tata-kelola pemerintahan.

Penjelasan tentang ranah material-teknologikal diajukan oleh banyak pemikir. Menurut Karl Marx, ide dan peradaban dari suatu kelompok yang dominan dalam penguasaan ekonomi dan teknologi akan kuat mempengaruhi ide dan peradaban kelompok lain. Bagi Toynbee, kedatipun visi spiritualitas merupakan perisai terdalam dari ketahanan suatu peradaban, hanya peradaban yang kuat penguasaan teknologinya yang mudah mempengaruhi peradaban lain. Lebih dari itu, para pemikir utilitarian seperti Jeremy Bentham menekankan pentingnya kesejahteraan umum (the greatest happiness of the greatest number) sebagai basis keutuhan dan kebajikan publik.

Visi Pancasila telah mengantisipasi ketiga ranah tersebut. Ranah mental-spiritual (kultural) basis utamanya adalah sila pertama, kedua, dan ketiga. Ranah institusional-politikal basis utamanya sila keempat. Ranah material-tenologikal basis utamanya sila kelima.

Pengembangan mental-spiritual diarahkan untuk menjadi bangsa yang berkepribadian dengan daya-daya spiritualitas yang berperikemanusiaan, egaliter, mandiri, amanah dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme; serta sanggup menjalin persatuan (gotong-royong) dengan semangat pelayanan (pengorbanan).

Pengembangan institusi sosial-politik diarahkan untuk menjadi bangsa yang berdaulat dengan demokrasi yang bercita kerakyatan, cita permusyawaratan dan cita hikmat-kebijaksanaan dalam suatu rancang bangun institusi-institusi demokrasi yang dapat memperkuat persatuan (negara persatuan) dan keadilan sosial (negara kesejahteraan).

Pengembangan material-teknologikal dirahkan untuk menjadi bangsa yang mandiri dan berkesejahteraan umum dengan mewujudkan perekonomian merdeka, berlandaskan usaha tolong-menolong, disertai pengusaan negara atas “karunia kekayaan bersama” (commonwealth); seraya memberi nilai tambah atas karunia yang terberikan dengan input pengetahuan dan teknologi.

Pengembangan ketiga ranah tersebut memerlukan keandalan tiga agensi sosial: rejim pendidikan dan pengetahuan, rejim politik-kebijakan, rejim ekonomi-produksi. Dalam konteks persoalan Indonesia hari, ketiga rejim mengemban prioritas tugas sebagai berikut.

Prioritas rejim pendidikan dan pengetahuan adalah membenahi aspek mental-spiritual dengan merevitalisasi pendidikan budi pekerti, terutama pada tingkat pendidikan dasar. Pendidikan budi-pekerti mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan tekad-kemauan manusia yang mendorong kekuatan tenaga yang dapat malahirkan penciptaan dan perbuatan yang baik, benar dan indah. Dengan pendidikan budi-pekerti diharapkan mampu melahirkan generasi baru Indonesia yang berkarakter dan kreatif.

Prioritas rejim politik-kebijakan adalah menata ulang sistem demokrasi dan pemerintahan dalam kerangka memperkuat persatuan nasional dan keadilan sosial. Demokrasi padat modal harus dihentikan, otonomi daerah harus ditata ulang, haluan negara harus dihidupkan, sistem perwakilan harus lebih inklusif dengan memulihkan eksistensi majelis permusyawaratan bersama yang mengakomodasi liberal-individual rights (DPR), communitarian rights (utusan golongan) dan territorial rights (utusan daerah), serta memperkuat rejim negara kesejahteraan yang bersemangat gotong-royong.

Priotitas rejim ekonomi-produksi adalah mengembangkan semangat tolong-menolong (kooperatif) dalam perekonomian. Jangan sampai mata rantai produksi dari hulu ke hilir terkonsentrasi di satu tangan. Inklusi ekonomi juga bisa didorong melalui pengembangan penguasaan teknologi berbasis potensi dan karakterististik keindonesiaan. Untuk itu, pengembangan teknologi harus beringsut dari lembaga riset negara menuju ranah industri-perusahaan; terintegrasi ke dalam sektor produktif.

Perhatian terhadap tiga ranah dan tiga agensi sosial utama tersebut merupakan pertaruhan nasib negara-bangsa di masa depan. Sayang sekali, semua itu cenderung luput dari agenda kontestasi politik, tenggelam di bawah gunungan sampah kebohongan dan pertikaian.
Yudi latif.
Aliansi kebangsaan