Sabtu, 24 Agustus 2019
Geopolitik: Radikalisme Syndrome
ANTARA RADIKALISME, STOCKHOLM SYNDROME DAN REVOLUSI
Telaah Kecil Geopolitik
Timbulnya permasalahan hulu (pokok) bangsa, menurut geopolitik, selalu diawali adanya/oleh ketergantungan terhadap impor kebutuhan publik, atau sumber daya alam telah banyak dikuasai asing dst termasuk ada monopoli hal-hal menyangkut hajat hidup orang banyak dalam kendali segelintir elit, dan lain-lain.
Semisal impor, selain menguras devisa, ia juga mencerminkan tergerusnya geopolitik sebuah bangsa sebab sudah tergantung pada negara lain. Modus asing saat mencaplok geoekonomi negara target, jika di era penjajahan klasik via militer, sedang pada era kini biasanya melalui politik dan ekonomi, seperti investasi asing, misalnya, atau modus G to G/B to B namun ada debt trap di balik open agenda, ataupun melalui kepemilikan surat utang negara/SUN dst. Sehingga upaya pemerintah manapun untuk mensejahterakan rakyatnya menjadi tak optimal. Ada kendala struktural.
Nah, potret yang terlihat kemudian, rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi justru menjadi tamu di negeri sendiri. Istilahnya "Absentee of Lord." Tuan tanah yg tak berpijak di tanahnya sendiri. "Tanah Air," mungkin tersisa "air"-nya. Itupun sebagian sudah dieksploitasi asing. Dikemas dalam botol-botol, lalu dijual kembali ke rakyat. Sedang "tanah"-nya entah kini siapa punya terutama yang terpapar unsur geoekonomi.
Sedang persoalan hilir bangsa itu sejatinya cuma residu, riak, ataupun ampas dan/atau segala sesuatu yang tidak berkait signifikan dengan kedaulatan (geo) ekonomi bangsa. Kerap kali, masalah hilir dijadikan pengalihan isu apabila muncul masalah besar lain, atau sekedar penyesatan publik. Ya masalah hilir itu contohnya paket isu DHL (demokratisasi, HAM, Lingkungan), atau di era sekarang paket DHL berubah menu menjadi sektarian, isu sentimen ras, intoleransi dst. Retorikanya begini, apakah defisit neraca perdagangan disebabkan HAM; mungkinkah defisit APBN dan defisit neraca pembayaran karena faktor sektarian dan isu sentimen agama? Dan lain retorika.
Ketika segelintir elit menuduh bahwa terdapat kelompok dan/atau golongan tertentu telah terpapar radikalisme, publik pun perlu curiga kepada segelintir elit penuduh, jangan-jangan mereka justru telah terpapar atau terjangkit oleh virus apa yang disebut dengan istilah stockholm syndrome. Apa itu? Postcolonialism mengajarkan, stockholm syndrome itu adalah (semacam) virus yang bisa merusak integritas moral (bangsa) dan menggerus jiwa nasionalis orang karena sikap-tindakannya cenderung membela kepentingan negara asing serta mencintai negara lain (asing) yang justru hendak menjajah dan/atau merampas kehidupan bangsanya sendiri.
Keterpaparan situasi dan kondisi ini sepertinya tengah berlangsung secara terstruktur, masif dan sistematis di Bumi Pertiwi. Berbagai kegaduhan sosial politik niscaya akan berlanjut dalam ujud peperangan narasi karena memang didesain agar publik (terutama akar rumput) terus bergaduh ria di masalah-masalah hilir.
Terkait maraknya korupsi dan polarisasi, misalnya, kendati ia bukan permasalahan hulu bangsa sebagaimana isyarat di muka, namun hal ini merupakan masalah besar di hilir yang mutlak harus segera diselesaikan. Kenapa? Karena selain membelah rakyat dalam kondisi saling berhadapan, juga menyerap energi bangsa karena efeknya adalah kegaduhan berkala.
Kalau sudah begini, tata cara reformis, atau jalan anarkis pun, tak akan bisa menyelesaikan permasalahan. Kenapa? Karena cara reformis hanya membangun namun tidak menjebol (penyebab), sebaliknya, jalan anarkis pun cuma menjebol tapi tidak membangun (solusi). Jalan terbaik mungkin revolusi. Dalam konteks ini, para elit politik, perumus kebijakan dan publik itu sendiri, tak perlu alergi dengan diksi atau kosa kata REVOLUSI. Kenapa? Karena revolusi itu tidak identik dengan kekerasan, juga bukan jalan kekacauan atau berdarah-darah seperti persepsi yang dinarasikan di publik selama ini. Revolusi itu seni dan simponi (bagaimana) menjebol tetapi sekaligus membangun. Keduanya, dilakukan secara simultan dengan intensitas berbeda. Menjebol hal-hal yang merugikan (memiskinkan) rakyat, kemudian membangun segala hal demi keselamatan negara dan kesejahteraan rakyat.
Dari sudut causalitas, poin inti (pola) revolusi itu ialah: "Memecahkan penyebab masalah, bukan sekedar menyelesaikan akibat dari sebuah permasalahan". Jadi, sosok revolusioner ---siapapun--- harus menyiapkan dan membangun penyebab baru setelah penyebab lama dijebol.
Jika jujur menyebut, kegaduhan politik dekade ini, entah maraknya korupsi atau eksploitasi polarisasi rakyat --- penyebabnya ialah sistem politik one man one vote, multi-partai, atau otoda, dst. Pola revolusi mengendus, bahwa one man one vote, multipartai, dst terindikasi sebagai modus devide et impera (adu domba) yang ditempelkan oleh asing dalam sistem konstitusi. Itulah sejatinya penyebab lama yang mutlak dijebol, tapi harus segera dibangunkan lagi model pengganti (ditancapkan penyebab baru) yang tidak membelah bangsa, tidak high cost politics dan tak menyuburkan korupsi.
Demikian adanya, terima kasih.
Sabtu, 10 Agustus 2019
Minggu, 30 Juni 2019
Mata uang baru fb Libra
Libra Bitcoin
Kamis 27 June 2019
Bitcoin memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata uang' baru dunia. Namanya Libra. Bank-bank sentral di dunia pun angkat bicara. Mereka akan mewaspadai langkah baru Facebook itu. Yang akan membuat bank tidak ada gunanya lagi. Bank sebenarnya adalah hanya perantara. Antara pemilik uang dan pengguna uang. Di zaman modern ini untuk apa lagi ada perantara? Sebagian besar manusia ini tidak punya cukup uang. Sebagian agak besar lagi punya uang secukupnya. Hanya sebagian amat kecil yang punya uang berlebihan. Yang tidak punya itulah yang berusaha punya uang. Dengan cara meminjam uang ke bank. Bunga tinggi. Sebagian bunga untuk pemilik uang. Sebagian lagi untuk perantaranya. Yang bagian perantara itu dibagi dua pula: untuk keuntungan perantara dan untuk biaya perantara. Misalnya membangun gedung bank semegah-megahnya. Kian. Megah gedungnya kian Anda percaya. Anda tidak sadar bahwa kemewahan itu Anda lah yang membiayainya. Juga untuk membeli peralatan canggih. Dan tentu untuk gaji para pimpinan dan karyawan bank. Bank-bank sentral dunia juga akan menyelidiki kehadiran Libra: apakah dunia tidak bahaya. Kalau sampai mata uang seperti dolar dan euro runtuh. Adakah Facebook kurang kaya? Sampai terjun ke bisnis baru yang lebih raksasa lagi? "Ini bukan bisnis. Ini misi idealisme Facebook," ujar petingginya. Seperti tersiar di media Amerika yang saya ikuti dari dekat sekarang ini. Tujuan Facebook: agar mata uang dunia itu adil bagi semua orang. Juga agar tersedia jenis 'bank' baru. Yang lebih murah dan efisien. Di dunia ini orang menggunakan dolar belum sampai satu miliar. Demikian juga yang menggunakan rupee dan yuan. Tapi pengguna Facebook sudah melebihi dua miliar. Kekuatan penetrasi Facebook itulah yang akan dipakai. Untuk mempercepat pemasyarakatan 'mata uang' baru Libra. Apalagi lebih satu miliar manusia di bumi ini belum bisa mendapat layanan bank. Maka Facebook nanti akan menjadi 'bank sentral' sekaligus 'bank sentralnya dunia'. Juga akan menjadi penerbit 'mata uang' Libra. Libra nanti, kata Facebook, sangat independen dan demokratis. Tidak ada satu pemerintahan pun yang bisa intervensi. Libra tidak akan seperti bank-bank sentral yang ada. Yang bisa dipengaruhi politik. Terutama politik kepentingan negara masing-masing. Untuk itu Facebook menggandeng 28 lembaga. Yang selama ini sudah bergerak di transaksi non-cash. Misalnya PayPal, Visa, Mastercard, Uber dan Women World Bank. Sayangnya di daftar itu tidak terlihat WeChat. Yang transaksi non-cash nya sudah mewabah di Tiongkok. Facebook sendiri akan punya 'dompet' baru: Calibra. Mungkin akan bertindak sebagai stabilisasi. Kalau nilai tukar Libra antar negara mengalami masalah. Saya masih berharap ini: sempat melihat perubahan besar itu. Yang tentu tidak akan terjadi dalam lima tahun. Tapi Facebook sudah bertekad untuk mempercepat keadilan keuangan ini. Menurut Facebook, selama ini biaya untuk transaksi itu sangat mahal. Yang untung hanya dunia perbankan. Atau lembaga keuangan. Kini asosiasi Libra itu sedang mematangkannya: bagaimana masyarakat seluruh dunia bisa bertransaksi dengan murah. Beli barang atau jual barang tidak perlu lagi pakai uang. Cukup pakai angka. Algoritma akan menyelesaikannya. Bank-bank sentral di dunia juga mengkhawatirkan ini: apakah Libra akan aman dari praktik pencucian uang. Dan apakah tidak akan dipakai aliran dana untuk terorisme. Tentu Facebook sudah memikirkan pemecahannya. Yang jelas Facebook tidak akan mundur: transaksi menggunakan Libra nanti akan semudah kirim WA. Tidak akan seperti bitcoin. Yang sempat seperti roller coaster. Saya pun sempat miris. Lalu exit dari bitcoin. Tahun lalu. Mumpung belum rugi. Gak tahunya dua hari lalu booming. Mencapai 11.000. Waktu bitcoin mulai menggigit dunia tidak terlalu banyak yang khawatir. Banyak pemerintah yang melarang penggunaan bitcoin. Tapi kali ini Facebook yang terjun. Usia bank sudah lebih 1000 tahun. Sejak ada bank pertama di Italia tahun 600 masehi. Atau sekitar itu. Facebook menganggap usia 1000 tahun sudah sangat tua. Untuk diikuti manusia muda sekarang ini.(Dahlan Iskan) https://www.disway.id/r/495/libra-bitcoin
Bitcoin memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata uang' baru dunia. Namanya Libra. Bank-bank sentral di dunia pun angkat bicara. Mereka akan mewaspadai langkah baru Facebook itu. Yang akan membuat bank tidak ada gunanya lagi. Bank sebenarnya adalah hanya perantara. Antara pemilik uang dan pengguna uang. Di zaman modern ini untuk apa lagi ada perantara? Sebagian besar manusia ini tidak punya cukup uang. Sebagian agak besar lagi punya uang secukupnya. Hanya sebagian amat kecil yang punya uang berlebihan. Yang tidak punya itulah yang berusaha punya uang. Dengan cara meminjam uang ke bank. Bunga tinggi. Sebagian bunga untuk pemilik uang. Sebagian lagi untuk perantaranya. Yang bagian perantara itu dibagi dua pula: untuk keuntungan perantara dan untuk biaya perantara. Misalnya membangun gedung bank semegah-megahnya. Kian. Megah gedungnya kian Anda percaya. Anda tidak sadar bahwa kemewahan itu Anda lah yang membiayainya. Juga untuk membeli peralatan canggih. Dan tentu untuk gaji para pimpinan dan karyawan bank. Bank-bank sentral dunia juga akan menyelidiki kehadiran Libra: apakah dunia tidak bahaya. Kalau sampai mata uang seperti dolar dan euro runtuh. Adakah Facebook kurang kaya? Sampai terjun ke bisnis baru yang lebih raksasa lagi? "Ini bukan bisnis. Ini misi idealisme Facebook," ujar petingginya. Seperti tersiar di media Amerika yang saya ikuti dari dekat sekarang ini. Tujuan Facebook: agar mata uang dunia itu adil bagi semua orang. Juga agar tersedia jenis 'bank' baru. Yang lebih murah dan efisien. Di dunia ini orang menggunakan dolar belum sampai satu miliar. Demikian juga yang menggunakan rupee dan yuan. Tapi pengguna Facebook sudah melebihi dua miliar. Kekuatan penetrasi Facebook itulah yang akan dipakai. Untuk mempercepat pemasyarakatan 'mata uang' baru Libra. Apalagi lebih satu miliar manusia di bumi ini belum bisa mendapat layanan bank. Maka Facebook nanti akan menjadi 'bank sentral' sekaligus 'bank sentralnya dunia'. Juga akan menjadi penerbit 'mata uang' Libra. Libra nanti, kata Facebook, sangat independen dan demokratis. Tidak ada satu pemerintahan pun yang bisa intervensi. Libra tidak akan seperti bank-bank sentral yang ada. Yang bisa dipengaruhi politik. Terutama politik kepentingan negara masing-masing. Untuk itu Facebook menggandeng 28 lembaga. Yang selama ini sudah bergerak di transaksi non-cash. Misalnya PayPal, Visa, Mastercard, Uber dan Women World Bank. Sayangnya di daftar itu tidak terlihat WeChat. Yang transaksi non-cash nya sudah mewabah di Tiongkok. Facebook sendiri akan punya 'dompet' baru: Calibra. Mungkin akan bertindak sebagai stabilisasi. Kalau nilai tukar Libra antar negara mengalami masalah. Saya masih berharap ini: sempat melihat perubahan besar itu. Yang tentu tidak akan terjadi dalam lima tahun. Tapi Facebook sudah bertekad untuk mempercepat keadilan keuangan ini. Menurut Facebook, selama ini biaya untuk transaksi itu sangat mahal. Yang untung hanya dunia perbankan. Atau lembaga keuangan. Kini asosiasi Libra itu sedang mematangkannya: bagaimana masyarakat seluruh dunia bisa bertransaksi dengan murah. Beli barang atau jual barang tidak perlu lagi pakai uang. Cukup pakai angka. Algoritma akan menyelesaikannya. Bank-bank sentral di dunia juga mengkhawatirkan ini: apakah Libra akan aman dari praktik pencucian uang. Dan apakah tidak akan dipakai aliran dana untuk terorisme. Tentu Facebook sudah memikirkan pemecahannya. Yang jelas Facebook tidak akan mundur: transaksi menggunakan Libra nanti akan semudah kirim WA. Tidak akan seperti bitcoin. Yang sempat seperti roller coaster. Saya pun sempat miris. Lalu exit dari bitcoin. Tahun lalu. Mumpung belum rugi. Gak tahunya dua hari lalu booming. Mencapai 11.000. Waktu bitcoin mulai menggigit dunia tidak terlalu banyak yang khawatir. Banyak pemerintah yang melarang penggunaan bitcoin. Tapi kali ini Facebook yang terjun. Usia bank sudah lebih 1000 tahun. Sejak ada bank pertama di Italia tahun 600 masehi. Atau sekitar itu. Facebook menganggap usia 1000 tahun sudah sangat tua. Untuk diikuti manusia muda sekarang ini.(Dahlan Iskan) https://www.disway.id/r/495/libra-bitcoin
Rabu, 20 Maret 2019
Geopolitik NZ
MEMBACA PENEMBAKAN DI NEW ZEALAND DARI PERSPEKTIF GEOPOLITIK
0Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ras, dll melainkan karena faktor geoekonomi. Perang agama, suku dst hanya sebuah geostrategi dari si pemilik hajatan guna "memasuki" wilayah dan/atau negara target belaka. Kenapa? Biasanya bagi wilayah atau kawasan yang ditarget memiliki kepentingan entah implikasi maupun kontribusi terkait geoekonomi negeri pemilik hajatan, dan narasi geoekonomi tersebut kerap disebut "national interest" atau kepentingan nasional. Selanjutnya terkait asumsi global "If you would understand world geopolitics todoy, follow the oil" (Deep Stoat), bila ingin paham geopolitik hari ini, ikuti aliran minyak, kita coba memakai teori Deep Stoat sebagai salah satu pisau bedah untuk menguak kasus penembakan masjid di New Zealand (NZ) yang menelan rewas korban 40-an orang lebih. Pertanyaan pertama, apakah NZ produsen minyak? Ternyata tidak. Tidak ada minyak di NZ, bahkan sejak 2000-an ia mencanangkan go north demi mencari minyak ke utara. Pertanyaan kedua, apakah di NZ ada sejarah konflik ataupun teroris? Juga tidak. Bahkan menurut PBB di awal 2018, NZ termasuk 10 besar negara paling bahagia karena aspek destinasi, maskapai, dan brand terbaik, dll di bawah Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, dan Kanada, tetapi masih di atas Swedia dan Australia. Kesimpulan awal, faktor minyak sesuai asumsi Stoat pun gugur, karena selain NZ bukan produsen minyak, juga tak ada sejarah konflik dan teroris di sana. Adanya dugaan bahwa para pelaku penembakan ialah teroris impor merupakan hal logis. Niscaya pelaku bukan warga negara NZ. Pertanyaan berikutnya, lantas geoekonomi apa yang hendak diraih si pemilik hajatan melalui pintu masuk penembakan liar di masjid kuat diduga ada kepentingan asing di NZ? Ini yang hendak diurai. Naik dahulu ke isu global. Tak dapat dipungkiri, memasuki Abad ke 21 ada dua isu aktual yang menggejala di dunia geopolitik. Isu dimaksud antara lain: 1) pergeseran geopolitik (geopolitical shift) dari Atlantik ke Asia Pasifik. Entah akibat pertumbuhan ekonomi, atau faktor konsumsi, entah karena pasar yang potensial, dst. Yang jelas, ada geopolitical shift dan para adidaya berbondong-bondong ke Asia Pasifik. Kajian Jala Sutra ---air yang paling halus--- pergeseran tersebut merupakan ujud keseimbangan alam. Bila kemarin orang melihat Barat, wajar kini menengok ke Timur. Jika Barat adalah era ketenggelaman (matahari) sebab bergerak dari atas ke bawah, maka Timur adalah masa keterbitan (matahari), bergerak tumbuh dari bawah ke atas. Jadi cuma masalah keseimbangan belaka; 2) ada perubahan "power concept" dari militer ke power ekonomi. Power cöncept itu sendiri adalah politik kekuatan dalam dunia geopolitik dimana untuk memenuhi tujuan serta cita-cita dilandasi oleh power politik, militer dan power ekonomi. Agaknya tren yang berkembang kini adalah power ekonomi di depan ketimbang dua power (militer dan politik) lainnya. Maka frasa perang dagang lebih disukai daripada lobi politik dan invasi militer yang biaya tinggi serta perlu restu internasional; Terkait topik di muka, pertanyaannya adalah, ada apa di negeri-negeri kepulauan (polinesia) di Pasifik terkait geopolitik? Tak boleh dipungkiri, kawasan polinesia terutama negara-negara di Pasifik Selatan telah jatuh dalam debt trap (jebakan utang) Cina seperti Fiji, Vanuatu, Kaledonia Baru dst. Metode debt trap ala invasi senyap Cina bermodus ekonomi melalui pembangunan infrastruktur relatif efektif terutama di lintasan One Belt One Road (OBOR) atau Jalur Sutra Abad ke 21. Kelompok negara di lintasan OBOR termasuk negara polinesia digelontar utang dalam jumlah besar yang tak akan sanggup mereka bayar. The Sun melansir, beberapa negara yang menunggak utang dipaksa menyerahkan aset negara, harus mengizinkan Cina membuat pangkalan militer, hingga pemberlakuan mata uang Cina (Yuan) di negara tersebut, dst. Salah satu negara di lintasan Jalur Sutra Baru adalah Sri Lanka. Ia menyerahkan pelabuhannya ke Cina dengan konsesi 99 tahun karena gagal bayar. Belum lagi Djibouti yang telah bercokol pangkalan militer Cina, ataupun Zimbabwe dan Angola yang telah memakai Yuan sebagai alat transaksi sehari-hari, dst. Tampaknya geliat OBOR melalui invasi senyapmya telah mengusik hegemoni Barat di Pasifik Selatan karena kelompok negara polinesia mulai "jatuh" satu persatu dalam debt trap Cina. Hanya soal waktu saja (jatuh tempo) untuk mengakuisisinya. BERSAMBUNG ..
0Geopolitik modern mengisyaratkan bahwa tidak ada perang agama, atau tak ada konflik antarmazhab, perang suku, ras, dll melainkan karena faktor geoekonomi. Perang agama, suku dst hanya sebuah geostrategi dari si pemilik hajatan guna "memasuki" wilayah dan/atau negara target belaka. Kenapa? Biasanya bagi wilayah atau kawasan yang ditarget memiliki kepentingan entah implikasi maupun kontribusi terkait geoekonomi negeri pemilik hajatan, dan narasi geoekonomi tersebut kerap disebut "national interest" atau kepentingan nasional. Selanjutnya terkait asumsi global "If you would understand world geopolitics todoy, follow the oil" (Deep Stoat), bila ingin paham geopolitik hari ini, ikuti aliran minyak, kita coba memakai teori Deep Stoat sebagai salah satu pisau bedah untuk menguak kasus penembakan masjid di New Zealand (NZ) yang menelan rewas korban 40-an orang lebih. Pertanyaan pertama, apakah NZ produsen minyak? Ternyata tidak. Tidak ada minyak di NZ, bahkan sejak 2000-an ia mencanangkan go north demi mencari minyak ke utara. Pertanyaan kedua, apakah di NZ ada sejarah konflik ataupun teroris? Juga tidak. Bahkan menurut PBB di awal 2018, NZ termasuk 10 besar negara paling bahagia karena aspek destinasi, maskapai, dan brand terbaik, dll di bawah Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, Swiss, Belanda, dan Kanada, tetapi masih di atas Swedia dan Australia. Kesimpulan awal, faktor minyak sesuai asumsi Stoat pun gugur, karena selain NZ bukan produsen minyak, juga tak ada sejarah konflik dan teroris di sana. Adanya dugaan bahwa para pelaku penembakan ialah teroris impor merupakan hal logis. Niscaya pelaku bukan warga negara NZ. Pertanyaan berikutnya, lantas geoekonomi apa yang hendak diraih si pemilik hajatan melalui pintu masuk penembakan liar di masjid kuat diduga ada kepentingan asing di NZ? Ini yang hendak diurai. Naik dahulu ke isu global. Tak dapat dipungkiri, memasuki Abad ke 21 ada dua isu aktual yang menggejala di dunia geopolitik. Isu dimaksud antara lain: 1) pergeseran geopolitik (geopolitical shift) dari Atlantik ke Asia Pasifik. Entah akibat pertumbuhan ekonomi, atau faktor konsumsi, entah karena pasar yang potensial, dst. Yang jelas, ada geopolitical shift dan para adidaya berbondong-bondong ke Asia Pasifik. Kajian Jala Sutra ---air yang paling halus--- pergeseran tersebut merupakan ujud keseimbangan alam. Bila kemarin orang melihat Barat, wajar kini menengok ke Timur. Jika Barat adalah era ketenggelaman (matahari) sebab bergerak dari atas ke bawah, maka Timur adalah masa keterbitan (matahari), bergerak tumbuh dari bawah ke atas. Jadi cuma masalah keseimbangan belaka; 2) ada perubahan "power concept" dari militer ke power ekonomi. Power cöncept itu sendiri adalah politik kekuatan dalam dunia geopolitik dimana untuk memenuhi tujuan serta cita-cita dilandasi oleh power politik, militer dan power ekonomi. Agaknya tren yang berkembang kini adalah power ekonomi di depan ketimbang dua power (militer dan politik) lainnya. Maka frasa perang dagang lebih disukai daripada lobi politik dan invasi militer yang biaya tinggi serta perlu restu internasional; Terkait topik di muka, pertanyaannya adalah, ada apa di negeri-negeri kepulauan (polinesia) di Pasifik terkait geopolitik? Tak boleh dipungkiri, kawasan polinesia terutama negara-negara di Pasifik Selatan telah jatuh dalam debt trap (jebakan utang) Cina seperti Fiji, Vanuatu, Kaledonia Baru dst. Metode debt trap ala invasi senyap Cina bermodus ekonomi melalui pembangunan infrastruktur relatif efektif terutama di lintasan One Belt One Road (OBOR) atau Jalur Sutra Abad ke 21. Kelompok negara di lintasan OBOR termasuk negara polinesia digelontar utang dalam jumlah besar yang tak akan sanggup mereka bayar. The Sun melansir, beberapa negara yang menunggak utang dipaksa menyerahkan aset negara, harus mengizinkan Cina membuat pangkalan militer, hingga pemberlakuan mata uang Cina (Yuan) di negara tersebut, dst. Salah satu negara di lintasan Jalur Sutra Baru adalah Sri Lanka. Ia menyerahkan pelabuhannya ke Cina dengan konsesi 99 tahun karena gagal bayar. Belum lagi Djibouti yang telah bercokol pangkalan militer Cina, ataupun Zimbabwe dan Angola yang telah memakai Yuan sebagai alat transaksi sehari-hari, dst. Tampaknya geliat OBOR melalui invasi senyapmya telah mengusik hegemoni Barat di Pasifik Selatan karena kelompok negara polinesia mulai "jatuh" satu persatu dalam debt trap Cina. Hanya soal waktu saja (jatuh tempo) untuk mengakuisisinya. BERSAMBUNG ..
Selasa, 12 Maret 2019
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) Definisi Gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Urgensi 1. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa. 2. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, Literasi Dasar, dan Kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Communication, and Collaboration). 3. Membekali siswa menghadapi kondisi degradasi moral, etika, dan budi pekerti.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER (PPK) Definisi Gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Urgensi 1. Pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa. 2. Menuju Generasi Emas 2045 dengan dibekali Keterampilan abad 21 : Kualitas Karakter, Literasi Dasar, dan Kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Communication, and Collaboration). 3. Membekali siswa menghadapi kondisi degradasi moral, etika, dan budi pekerti.
Langganan:
Postingan (Atom)







